Sejarah Human Coronavirus yang mengguncang dunia
Gambar novel coronavirus COVID-19 yang diperbesar memperlihatkan bahwa jenis virus ini satu keluarga dengan SARS dan MERS

Sejarah Human Coronavirus sudah lama menjangkiti manusia. Corona Virus pertama kali muncul dalam laporan pada tahun 1960an dengan sebutan Human Coronavirus, diberi nama HCoV-229E. Selanjutnya virus corona virus bermutasi yang kemudian disebut dengan HCoV-OC43.

aksiografi.comHuman coronaviruses yang disingkat HCoV atau virus corona pada manusia sejak lama ditemukan jauh sebelum terjadi epidemik SARS pada 2002 di Tiongkok. Awalnya virus corona yang menjangkiti manusia disebut Human Coronavirus. Artinya virus corona itu memang hanya dari manusia ke manusia bukan dari hewan ke manusia. Belakangan Human Coronavirus itu diduga dari hewan namun belum ada pembuktian yang akurat tentang itu.

Coronavirus adalah virus RNA indra-positif yang tidak tersegmentasi masuk dalam family Coronaviridae dan Ordo Nidovirales. Kelompok virus ini dapat menyebabkan penyakit pada burung, mamalia, dan manusia namun belum pasti virus itu dari hewan lalu menjangkiti manusia.

Istilah corona diambil dengan melihat bentuknya menyerupai mahktota atau corona matahari ketika dicitrakan menggunakan mikroskop elektron. Corona berasal dari Bahasa Yunani, corn yang berarti mahkota.  

HCoV pertama kali muncul dalam laporan pada pertengahan 1960an. Spesies pertama kali terdeteksi[1][2] diberi nama HCoV-229E dan selanjutnya HCoV-OC43. Sejak itu, lebih banyak lagi spesies dari coronavirus yang dideskripsikan.[3][4][5]

Sejarah Human Coronavirus

Virus corona 229E diidentifikasi sebagai penyebab paling umum kedua pilek setelah rhinovirus pada orang dewasa yang sehat. Gejala dominan adalah akut rhinorrhea, hidung tersumbat, dan  atau sakit tenggorokan.[6] Sengau debit adalah ciri khas dari semua gejala setelah inokulasi HcoV-229E yang kondisi sehat, dan gejala yang diamati lebih lanjut adalah malaise, sakit kepala, kedinginan, dan batuk.[7]

human coronavirus, HCoV-229E
human coronavirus (HCoV) dipertahankan di bawah Viral Storage medium-80C. Tes untuk kehadiran mycoplasmae yang negatif. Untuk mengkonfirmasi identitasnya virus telah sepenuhnya diurutkan.

Strain HCoV-229E dikaitkan dengan gejala flu biasa.[8] Anak-anak muda dan orang tua dianggap lebih rentan infeksi saluran pernapasan bawah. Saluran pernapasan bagian bawah yang parah infeksi sejauh ini hanya dijelaskan pada pasien dengan sistem imun yang tertekan.[9][10]  

Foula Vassilara bersama rekannya dari Rumah Sakit Hygeia dan Departmen of Internal Medicine dan Medical School, Yunan, melakukan penelitian terkait Human Coronavirus 229E. Penelitian itu dilakukan pada satu kasus langka terjadi, HCoV menyerang pasien dan hampir merenggur nyawanya. “Sepengetahuan kami, tidak ada laporan yang menggambarkan ancaman jiwa kondisi pada dewasa imunokompeten yang dikaitkan dengan HCoV-229E,” tulisnya dalam laporannya.

Banyak kasus HCoV terjadi di berbagai negara, namun terdapat satu kasus yang langkah. Seorang guru usia 45 tahun terpapar beberapa patogen dari murid-muridnya.  Ia masuk UGD dengan kondisi batuk kering, sakit kepala, demam hingga 38,5 derajat beberapa jam lamanya. Riwayat medisnya biasa saja. Tidak pernah merokok.

“Kami melaporkan kasus sindrom gangguan pernapasan akut berkembang secara sehat dewasa tanpa komorbiditas dan jenis HCoV-229E yang diidentifikasi sebagai satu-satunya agen penyebab,” ungkapnya dalam laporannya dengan judul A Rare Case if Human Coronavirus 229E Associated with Acure Respiratory Distress Syndrome in a Healthy Adult yang dipublikasikan di website hindawi.com pada 15 April 2018.

Mereka menyarankan keberadaan HCoV-229E seharusnya tidak diremehkan, meskipun dianggap sebagai mikroorganisme “jinak” dan terkait dengan gejala pernapasan ringan. Sebagai patogen yang mungkin bahkan koinfeksi dengan mikroorganisme lain dan pada LRTIs yang lebih serius.

Alasan mengapa HuCoV-229E menyebabkan manifestasi klinis yang berbeda pada beragam kelompok pasien belum terjawab. Proses dimana HCoV-229E dapat menghindari pertahanan dan menyebabkan penyakit yang mengancam jiwa masih belum terungkap.

Awalnya HCoV yang menjangkiti manusia masih bersifat ringan. Gejalanya mirip flu, demam, batuk, dan radang tenggorokan, dan sesak napas kecuali pada kasus pasieng guru yang berusia 45 tahun itu.

Namun saat terjadinya epidemi kedua, betacoronavirus, coronavirus syndrome pernapasan akut yang pertama kali muncul pada November 2002 di Provinsi Guangdong, Tiongkok.  Rupanya, sejarah virus corona terus berlanjut. Saat itu dinamai SARS-CoV (Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus).

Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus

Sejarah human coronavirus masih berlanjut dengan munculnya Severe acute respiratory syndrome-related coronavirus atau disingkat dengan SARS-CoV. Pertamakali terjadi pada tahun 2002 di Cina dan menyebar ke 26 negara dengan 8.000 kasus hingga 2003. SARS-CoV menyebabkan 11 orang meninggal dari 100 kasus (sekitar 11 persen dari jumlah kasus).

Virus SARS ini mewabah karena Tiongkok membungkam berita wabah baik internal maupun internasional sehingga penyebarannya sangat cepat mencapai negeri tetangga, Hong Kong dan Vietnam pada akhir Feburaru 2003.

Pada 16 April 2003, setelah virus ini menjangkiti Asia dan sebagian kecil kasus di benua lain, WHO mengeluarkan iaran pers bahwa coronavirus sebagai penyebab resmi SARS. Hasil itu berdasarkan identifikasi hasil analisa laboratorium. Sampel virus itu disimpan di laboratorium kota New York, San Fransisco, Manila, Hong Kong dan Toronto.

Para ilmuwan yang dipimpin Dr. Marco Marra yang bekerja di Pusat Sains Genom Michael Smith di Vancouver telah memetakan urutan genetik virus corona yang diyakini terkait SARS. Mereka berkolaborasi dengan para ilmuwan yang di Pusat Pengendalian Penyakit dan Laboratorium Mikrobiolobi Nasional British Columbia d Winnipeg, Manitoba. Mereka menggunakan sampel dari pasien yang terinfeksi di Toronto.

Hasilnya, peta urutan genetic virus corona itu dibagikan ke seluruh dunia melalui situs web GSC. Dr. Donald Low dari Rumah Sakit Mount Sinai di Toronto.

Saat itu, coronavirus SARS merupakan salah satu dari beberapa virus yang diidentifikasi WHO sebagai penyebab epidemi di masa depan setelah epidemi Ebola.  

Middle East Respiratory Syndrome

Sejarah human coronavirus yang menyebabkan sakit Middle East Respiratory Syndrome disingkat MERS atau sindrom pernapasan yang sumber infeksinya berasal dari coronavirus-MERS (MERS-CoV). MERS-CoV suatu patogen yang muncul terkait dengan gejala pernapasan parah dan ginjal kegagalan pada pasien yang terinfeksi.[11][12] 

Secara global, 156 laboratorium dikonfirmasi kasus infeksi dengan MERS-CoV, termasuk 65 kematian, dilaporkan sebagai awal November 2013. Semua kasus manusia terkait dengan orang Arab Semenanjung (Arab Saudi, Yordania, Oman, Qatar, Kuwait, dan Amerika Serikat) Emirat Arab). Kasus impor terdeteksi di negara-negara di Eropa dan Afrika (Inggris, Jerman, Italia, Prancis, dan Tunisia).[13]

MERS mirip dengan SARS yang terjadi pada 2002-2003. Gejala infeksi MERS-CoV adalah gagal ginjal dan pneumonia akut yang berakibat fatal.

Pertama kali ditemukan pada pasien di Juni 2012. Pasien itu mengalami demam, batuk berdahak, dan sesak napas selama 7 hari. Masa inkubasi sekitar 12 hari. MERS juga dapat menyebabkan penuminia, baik penuminia viral maupun pneumonia bacterial.

Belum ada pengobatan bagi penderita MERS hingga saat ini. Perawatan bagi penderita MERS mengambil dasar perawatan bawah SARS, interfreron antara a2b dan Ribavirin untuk mereplikasi MERS-CoV. Pencegahan hanya dilakukan dengan cara memberkan vaksinasi influenza tahunan dan vaksinasi pneumokokus 5 tahunan kepada penderita untuk mengurangi atau melemahkan tingkat keparahan infeksi MERS.

Baik SARS maupun MERS dikalisifikasikan sebagai penyakit virus zoonasi, dimana pasien pertama terinfeksi virus langsung dari hewan. Berbagai studi menyebutkan sumber asli SARS-CoV dan MERS-CoV adalah kelelawar. Sedangkan musang (mamalia asli Asia dan Afrika), dan unta hanya berfungsi sebagai inang antara kelelawar dan manusia.

Sejarah Human Coronavirus COVID-19

Sejarah human coronavirus terus berlanjut dan menyebar lebih luas. Kali ini human coronavirus itu diberi nama Novel Coronavirus 2019 yang disingkat 2019-nCoV sebagai nama sementara sebelum ada kesepakatan dari WHO. 2019-nCoV merupakan virus baru yang epidemic yang belum diketahui sumber penyebabnya telah terdeteksi di kota Wuhan, Provinsi Hubei, Cina. Virus ini pertamakali terdeteksi manusia pada Desember 2019. Saat itu sudah menyebar secara cepat.

Sebulan lamanya virus ini belum terdeteksi. Pada 12 Januari 2020 diumumkan bahwa virus corona baru telah diidentifikasi dari sampel yang diperoleh dari kasus yang ada. Analisa awal dari sekuens genetic virus menunjukkan bahwa ini adalah penyebab wabah. Virus corona ini diberi nama 2019-nCoV dan penyakit yang ditimbulkan adalah pernapasan akut.

sejarah virus corona

Pada 30 Januari 2020, Organisasi Kesehatan Dunia, World Health Organizatioan (WHO), mengumumkan keadaan darurat kesehatan global atas wabah infeksi virus dari Wuhan. Deklarasi itu setelah ada konfirmasi kasus penderita dan jumlah penyebaran pesakitan di seluruh dunia. Saat itu telah dikonfirmasi ada  7.711 kasus dan 12.167 kasus yang dicurigai telah menyebar di seluruh dunia: 1.370 dalam kondisi parah, 170 orang meninggal, dan 124 yang telah pulih dan dipulangkang dari rumah sakit.

Pada pertemuan itu menyebutkan ada 83 kasus di 18 negara dan hanya 7 kasus yang tidak memiliki sejarah perjalanan di Tiongkok. Kasus itu juga menyebutkan telah terjadi penularan dari manusia ke manusia di 3 negara di luar Tiongkok. Komite akhirnya menyepakati bahwa 2019-nCoV merupakan PHEIC (Public Health Eergency of International Concern) dan mengeluarkan rekomendasi sementara di bawah IHR.

Kepada Cina untu melanjutkan langka-langkah:

  • Menerapkan strategi komunikasi risiko yang komprehensif untuk menginformasikan secara reguler populasi tentang evolusi wabah, langkah-langkah pencegahan dan perlindungan untuk populasi, dan langkah-langkah respons yang diambil untuk penanggulangannya.
  • Meningkatkan tindakan kesehatan masyarakat untuk penanggulangan wabah saat ini.
  • Memastikan ketahanan sistem kesehatan dan melindungi tenaga kerja kesehatan.
  • Meningkatkan pengawasan dan penemuan kasus aktif di seluruh Tiongkok.
  • Berkolaborasi dengan WHO dan mitra untuk melakukan penyelidikan untuk memahami epidemiologi dan evolusi wabah ini dan langkah-langkah dalam mengatasinya.
  • Bagikan data yang relevan tentang kasus manusia.
  • Terus mengidentifikasi sumber zonasi wabah, dan khususnya potensi sirkulasi bersama WHO segera diwujudkan.
  • Melakukan penyaringan keluar di bandara dan pelabuhan internasional, dengan tujuan deteksi dini wisatawan yang bergejala untuk evaluasi dan perawatan lebih lanjut, sambil meminimalkan gangguan pada lalu lintas internasional.

Apakah sejarah human coronavirus masih akan berlanjut beberapa tahun berikutnya setelah wabah ini teratasi? Belum ada yang bisa memastikan karena sumber virus ini masih simpang siur.


[1] D. Hamre and J. J. Procknow, “A new virus isolated from the human respiratory tract,” Experimental Biology and Medicine, vol. 121, no. 1, pp. 190-193, 1966.

[2] K. McIntosh, J. H. Dees, W. B. Becker, A. Z. Kapikian, and R. M. Chanock, “Recovery in tracheal organ cultures of novel viruses from patients with respiratory disease,” Proceedings of the National Academy of Sciences Proceedings of the National Academy of Sciences, vol. 57, no. 4, pp. 933-940, 1967.

[3] C. Drosten, S. Gilnther, W. Preiser et al., “Identification of a novel coronavirus in patients with severe acute respiratory syndrome,” New England Journal of Medicine, vol. 348, no. 20, pp. 1967-1976, 2003.

[4] L. van der Hoek, “Human coronaviruses: what do they cause?,” Antiviral Therapy, vol. 12, no. 4, pp. 651-658, 2007.

[5] A. M. Zaki, S. van Boheemen, T. M. Bestebroer, A. D. Osterhaus, and R. A. Fouchier, “Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia,” New England Journal of Medicine, vol. 367, no. 19, pp. 1814-1820, 2012.

[6] M. J. Makela, T. Puhakka, O. Ruuskanen et al., “Viruses and bacteria in the etiology of the common cold,” Journal of Clinical Microbiology, vol. 36, no. 2, pp. 539-542, 1998.

[7] A. F. Bradburne, M. L. Bynoe, and D. A. Tyrrell, “Effects of a “new” human respiratory virus in volunteers,”British Medical Journal, vol. 3, no. 5568, pp. 767-769, 1967.

[8] A. F. Bradburne, M. L. Bynoe, and D. A. Tyrrell, “Effects of a “new” human respiratory virus in volunteers,”British Medical Journal, vol. 3, no. 5568, pp. 767-769, 1967.

[9] M. J. Makela, T. Puhakka, O. Ruuskanen et al., “Viruses and bacteria in the etiology of the common cold,” Journal of Clinical Microbiology, vol. 36, no. 2, pp. 539-542, 1998..

[10] J. O. Hendley, H. B. Fishburne, and J. M. Gwaltney Jr., “Coronavirus infections in working adults. Eight-year study with 229 E and OC 43,” American Review of Respiratory Disease, vol. 105, no. 5, pp. 805-811, 1972.

[11] Zaki AM, van Boheemen S, Bestebroer TM, Osterhaus AD, Fouchier RA. Isolation of a novel coronavirus from a man with pneumonia in Saudi Arabia. N Engl J Med. 2012; 367:1814-20. http://dx.doi.org/10.1056/NEJMoa1211721.

[12] Drosten C, Seilmaier M, Corman VM, Hartmann W, Scheible G, Sack S, et al. Clinical features and virological analysis of a case of Middle East respiratory syndrome coronavirus infection. Lancet Infect Dis. 2013; 13:745-51. http://dx.doi.org/10.1016/S1473-3099(13)70154-3.

[13] World Health Organization. Middle East respiratory syndrome coronavirus (MERS-CoV)–update, 2013 [cited 2013 Dec 10]. http://www.who.int/csr/don/2013_06_26/en/index.html.