Mikroba Pengompos: Solusi Memperbaiki Tanah

Must Read

Mikroba pengompos adalah solusi memperbaiki tanah. Mikroba ini banyak digunakan dalam menerapkan sistem pertanian organik dengan mengandalkan alam sebagai satu ekosistem.

aksiografi.com – Mikroba pengompos merupakan bahan menyehatkan tanah. Alasan kesehatan dan kelestarian alam/lingkungan menjadikan pertanian organik sebagai salah satu alternatif pertanian modern. Pertanian organik mengandalkan bahan-bahan alami dan menghindari segala asupan yang berbau sintetik, baik berupa pupuk sintetik, herbisida, maupun pestisida sintetik. Namun, petani sering mengeluhkan hasil produksi pertanian organik yang produktivitasnya cenderung rendah dan lebih rentan terhadap serangan hama. Memanfaatkan bioteknologi berbasis mikroba adalah solusi dari masalah itu.

Tanah adalah habitat yang sangat kaya akan keragaman mikroorganisme seperti bakteri, aktinomicetes, fungi, protozoa, alga dan virus. Tanah-tanah pertanian yang subur mengandung lebih dari 100 juta mikroba per gram tanah. Produktivitas dan daya dukung tanah tergantung pada aktivitas mikroba-mikroba tersebut. Sebagian besar mikroba tanah memiliki peranan yang menguntungkan bagi pertanian.

Mikroba tanah antara lain berperan dalam mendegradasi limbah-limbah organik pertanian, re-cycling hara tanaman, fiksasi biologis nitrogen dari udara, pelarutan fosfat, merangsang pertumbuhan tanaman, biokontrol patogen tanaman, membantu penyerapan unsur hara tanaman, dan membentuk simbiosis menguntungkan. Bioteknologi berbasis mikroba tanah dikembangkan dengan memanfaatkan peran-peran penting mikroba tanah tersebut.

Teknologi Kompos Bioaktif Sederhana

Salah satu masalah mendasar yang sering ditemui ketika menerapkan pertanian organik adalah kandungan bahan organik tanah dan status hara tanah yang rendah. Petani organik mengatasi masalah tersebut dengan memberikan pupuk hijau atau pupuk kandang.

Limbah-limbah organik yang telah mengalami penghacuran sehingga menjadi lebih tersedia bagi tanaman. Seperti sampah dedaunan, seresah, kotoran-kotoran binatang ternak tidak bisa langsung diberikan ke tanaman. Limbah organik harus dihancurkan/dikomposkan terlebih dahulu oleh mikroba tanah menjadi unsur-unsur hara yang dapat diserap oleh tanaman. Secara alami proses pengkomposan ini memakan waktu yang sangat lama, berkisar antara enam bulan hingga setahun sampai bahan organik tersebut benar-benar tersedia bagi tanaman.

Namun dapat dipercepat dengan menggunakan mikroba penghancur (dekomposer) yang memiliki kemampuan tinggi. Penggunaan mikroba penghancur ini dapat mempersingkat proses dekomposisi dari beberapa bulan menjadi beberapa minggu saja. Di pasaran saat ini banyak tersedia produk-produk biodekomposer untuk mempercepat proses pengomposan, misalnya: Promi, ActiComp, SuperDec, OrgaDec, EM4, EM Lestari, Starbio, Degra Simba, Stardec, dan lain-lain. Nah, ketimbang mengeluarkan biaya membeli produk-produk itu, lebih baik membuat sendiri agar mengetahui bagaimana proses pembuatan mikroba dan dari bahan alami apa saja diperlukan. Yang penting ada kemauan untuk belajar menjadi petani unggul.

Apa yang terpenting disiapkan dalam mengembangkan Mikroba Pengompos? Tentu harus ada induk mikroba yang akan dikembangkan. Induk mikroba bisa dibeli di took-toko pertanian. Tetapi itu berarti petani harus mengeluarkan uang. Apakah induk mikroba bisa dibuat sendiri? Tentu bisa.

Bagaimana membuatnya?

Bahan yang dipersiapkan adalah: Dua (2) liter Air panas (yang sudah mendidih); dua (2) kg Dedak (bekatul, hasil sampingan penggilingan padi) sebagai media perkembangbiakan mikroba; setengah (1/2) kg Gula pasir atau bisa diganti dengan air nira atau tetes tebu; 1 ons Terasi; Dua (2) liter air dingin; dan Batang pisang yang membusuk sebagai indukan mikroba pengompos.

Caranya: air direbus sampai mendidih setelah itu diamkan sejenak sampai menjadi hangat. Selanjutnya, masukkan dedak /bekatul lalu aduk, kemudian masukkan gula pasir sambil aduk, dan masukkan terasi. Biarkan campuran ini sampai dingin. Sebutlah ini sebagai campuran 1.

Kedua, ambilah air dari batang pisang yang telah membusuk dengan cara memerasnya. Untuk menghasilkan hasil yang baik, air tersebut kemudian disaring. Air hasil saringan tersebut dimasukkan ke dalam campuran 1.

Kemudian diamkan selama 24 jam (sehari semalam). Setelah itu campuran tersebut disaring. Nah, sekarang kita sudah mendapatkan induk mikroba pengompos.

Induk mikroba pengompos ini bisa dikembangbiakkan. Pertama, siapkan bahan-bahan sebagai berikut: satu (1) liter induk mikroba (yang tadi sudah dibuat), dua (2) Kg dedak/katul/bekatul, dua (2) ons terasi/tepung ikan, satu (1) kg gula atau diganti dengan tetes tebu dengan perbandingan yang setara, dan lima (5) liter air.

Langkah-langkahnya sebagai berikut: siapkan air mendidih dengan cara merebusnya. Kemudian masukkan dedak/bekatul/katul, gula atau tetes tebu, dan terasi atau tepung ikan. Agar tercampur secara merata, maka perlu diaduk secara benar. Biarkan (diamkan) campuran tersebut sampai menjadi dingin.

Setelah dingin, masukkan induk mikroba pengompos. Aduk sampai merata. Kemudian campuran tersebut ditutup rapat-rapat (usahakan jangan sampai ada udara yang masuk ke dalamnya). Simpan campuran tersebut selama 2 x 24 jam (2 hari). Pada hari ketiga, campuran itu diaduk-aduk, lakukan kegiatan pengadukan ini setiap tiga hari sampai hari ketujuh (7). Pada hari kedelapan, campuran tersebut disaring. Air hasil saringan tersebut sudah bisa digunakan sebagai starter dalam pengomposan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest News

Pohon Tin adalah Pohon Tertua dalam Sejarah Kemanusiaan

Pohon tin adalah pohon tertua dalam sejarah kemanusiaan. Buah ini juga menjadi salah satu nama surah dalam Al-Quran dan dijadikan sumpah Allah
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img