MIUMI bukan Organisasi Masyarakat

Must Read

MIUMI bukan organisasi masyarakat tapi komunitas yang menghimpun para intelektual dan ulama muda se Indonesia. MIUMI hadir memperjuangkan cita-cita umat Islam dan tujuan bernegara.

aksiografi.com – Giliran Makassar menjadi tempat pelaksanaan Roadshow Tabligh Akbar Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) Jumat (26/03/2019). Pertemuan Diskusi dengan tema “Integritas Keislaman dan Kebangsaan” dihadiri sejumlah tokoh agama di Sulawesi Selatan dan pengurus berbagai organisasi Islam.

Pembicara diskusi tersebut adalah Sekjen MIUMI, Ust. Bachtiar Nasir. Peserta dari kalangan terbatas yaitu para undangan perwakilan dari organisasi Islam yang ada di Makassar. Peserta yang hadir hanya sekitar tiga puluh orang sesuai dengan undangan.

Awal diskusinya, Bachtiar Nasir menjelaskan soal sejarah MIUMI. Bachtiar mengatakan MIUMI bukan organisasi masyarakat, tapi ia adalah sebuah komunitas dari berbagai ormas dan lembaga-lembaga lainnya yang terdiri atas akademisi dan non-akademisi.

MIUMI bukan Organisasi Masyarakat

“Jadi MIUMI ini komunitas para tokoh yang menjadikan ilmu sebagai basis gerakan dan perjuangan dalam bersinergi. Termasuk gerakan kami adalah bagaimana ikut berperan serta dalam gerakan politik keumatan, termasuk menyambut pilpres, pileg, dan pimpinan DPD RI 2019 ini,” ungkat Bachtiar di hadapan para tokoh agama.

Jargon politik MIUMI adalah bagaimana menciptakan integrasi keislaman dan kebangsaan. Bachtiar menyebut Islam, sebagai agama yang universal bagi seluruh manusia, memandang politik sebagai sarana ibadah yang agung dalam rangka melakukan tata kelola kehidupan publik yang berkeadilan dan menyejahterakan masyarakat dan bangsa. Dia menegaskan Islam dan politik tak dapat dipisahkan, bahkan menjadi satu kesatuan yang integral. (Fir)

“Untuk itu, umat Islam menolak sekularisme dan liberalisme yang hendak memisahkan Islam dengan politik kebangsaan. Karena belakangan ini orang-orang yang tidak paham tentang Islam dan mendiskreditkan Islam dan berkata jangan campur adukkan agama dengan politik. Ini kami tolak karena Islam melihat, jika politik adalah memilih pemimpin, jika politik adalah menentukan undang-undang dan peraturan, jika politik adalah terkait menata kelola publik dan kehidupan publik, bagi kami ini adalah bagian dari ibadah yang agung dan tidak bisa dipisahkan,” beber dia.

Setelah Ustadz Bachtiar Nasir menyampaikan ceramahnya, moderator membuka sesi tanya jawab seputar kondisi umat Islam di Indonesia dan bagaimana kita menyikapi kondisi itu.

- Advertisement -spot_img

Latest News

Pohon Tin adalah Pohon Tertua dalam Sejarah Kemanusiaan

Pohon tin adalah pohon tertua dalam sejarah kemanusiaan. Buah ini juga menjadi salah satu nama surah dalam Al-Quran dan dijadikan sumpah Allah
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img