'Skenario' kepunahan manusia sedang berlangsung

‘Skenario’ Kepunahan Manusia berlangsung saat ini. Suatu prediksi tentang kepunahan manusia dalam 30 tahun mendatang berdasarkan hasil riset yang dilakukan David Spratt dan Ian Dunlop dengan judul Existential Climate-Related Security Risk: A Scenario Approach.

aksiografi.com – ‘Skenario’ kepunahan manusia ini hasil dari laporan hasil dari suatu penelitian terkait dengan dampak yang ditimbulkan perubahan iklim akibat pemanasan global (global warming) yang semakin meningkat setiap tahun.

Breakthrough National Center for Climate Restoration mengeluarkan laporan hasil penelitian dengan judul Existential Climate-Related Security Risk: A Scenario Approach oleh David Spratt dan Ian Dunlop pada tahun lalu, 2018. Mereka berpendapat bahwa manusia sedang berada pada situasi unik, dengan suhu tinggi yang belum pernah dirasakan sebelumnya serta jumlah populasi penduduk bumi hampir delapan miliar orang.

Penelitian mereka menggunakan pendekatan ‘skenario’ kepunahan manusia ini dengan menitikberatkan pada tiga hal, yaitu Scientific Reticence (Sikap Diamnya pada Ilmuan), Exixtential Risk (Risiko Eksistesial), Exixtential Risk Management (Manajemen Risiko Eksistensial), Discussion (Diskusi) dan Policy Recommendation (Rekomendasi Kebijakan). Mereka menggarisbawahi skenario kepunahan di mana manusia tidak mampu lagi bertahan hidup pada akhir 2050.

Laporan penelitian itu menguraikan tiga pemahaman yaitu pemahaman risiko, pemahaman saintis, dan pemahaman politik sehingga para pemimpin dunia dapat bertindak cepat dalam menghadapi ‘skenario’ kepunahan umat manusia.

‘Skenario 2050’ di mana manusia menghadapi kehancuran dalam tiga dekade. Skenario ini berdasarkan dari studi yang panjang dengan adanya pola yang konsisten dan terperinci sehingga menghasilkan model, terkuantifikasi (numerik), tetapi juga secara singkat mencatat kemungkinan lebih: permukaan laut, lapisan es kutub dan beberapa umpan balik siklus karbon.

Perhitungan ‘Skenario 2050’. Elips berwarna masing-masing mencakup metode berbeda yang digunakan untuk memperkirakan sensitivitas iklim: pengamatan (kiri), model iklim global (GCMs) (tengah) dan proksi paleoklimat (kanan). Batang abu-abu terang menunjukkan proses yang bertindak pada rentang waktu yang dapat diselesaikan oleh GCM, tetapi biasanya dianggap (sebagian) tidak aktif atau tidak ada. Garis putus-putus menunjukkan rentang waktu di mana umpan balik spesifik lebih lemah atau hanya beroperasi dalam keadaan tertentu. Tanda panah untuk awan, laju putaran, uap air, dan albedo menunjukkan bahwa umpan balik tersebut beroperasi pada rentang waktu singkat tetapi, karena pemanasan permukaan membutuhkan waktu berabad-abad atau lebih untuk menyeimbangkan, umpan balik ini terus berubah dan memengaruhi respons keseluruhan sistem hingga milenium ( Kredit: Knutti & Rugenstein 2015).

Dekade ‘Skenario’ Kepunahan Manusia

Berikut detail setiap dekade tersebut:

Dekade Pertama: 2020 – 2030

Terjadi kenaikan suhu di bumi. Suatu studi menyebutkan bahwa kadar karbondioksida telah mencapai 437 ppm. Angka ini belum pernah tercapai dalam 20 tahun terakhir. Planet bumi sendiri sudah menghangat sekitar 1.6 derajat Celsius atau 2,8 derajat Fahrenheit.

Dekade Kedua: 2030 -2050

Tahun 2030 terjadi puncak emisi. Setelah itu perlahan berkurang. Namun tetap terjadi umpan balik siklus karbon dan penggunaan bahan bakar fosil yang berkelanjutan sehingga diperkirakan suhu akan naik sekitar 3 derajat Celsius di antara tahun 2030an hingga 2040an.

Dekade 2050

Pada tahun 2050 diperkirakan akan ada konsensus ilmiah terkait titik kritis lapisan es di Greenland dan Antartika Barat dengan pemanasan 2 derajat Celsius.

skema risiko yang berkaitan dengan iklim
Skema risiko terkait iklim yang menjadi skenario 2050. (a) Kemungkinan kejadian dan (b) Dampak yang dihasilkan (c) Risiko. Kemungkinan dampaknya lebih rendah pada akhir dari distribusi namun memiliki kemungkinan risiko tertinggi (Kredit: RT Sutton / E Hawkins).

Pada dekade ini, dampaknya terhadap manusia sudah tidak bisa disangkal lagi. Sebanyak 55% populasi global akan menjadi subyek dan panas mematikan selama 20 hari. Selama hari-hari itu manusia akan sulit bertahan dalam kondisi tersebut.

Amerika Utara akan mengalami cuaca ekstrem, kebakaran hutan, kekeringan dan gelombang panas. Tidak ada musim hujan di Tiongkok sehingga sungai-sungai besar di Asia hampir kering. Sementara di Amerika Tengah turun curah hujan menurun hingga setengahnya.

Di seluruh Afrika Barat terjadi kondisi panas yang mematikan dan akan terjadi selama lebih dari 100 hari dalam setahun. Penduduk di negara-negara miskin tidak bisa mendapat akses ke penyejuk udara (AC) untuk membantu mereka bertahan hidup dalam suhu panas.

Dengan kondisi cuaca ekstrem itu mempengaruhi produksi makanan. Jumlah pasokan makanan tidak cukup untuk memberi makan populasi dunia sehingga lebih dari satu miliar orang diperkirakan akan terlantar.

Masalah kemudian berlanjut pada wabah penyakit serta kelaparan dan memicu konflik bersenjata antar negara hingga menjadi perang nuklir. Menurut para ahli skala kehancurannya bisa membuat peradaban manusia berakhir.

Solusi

Solusi atas kemungkinan ‘skenario’ itu, para ahli memberikan rekomendasi. “Setiap negara segera memeriksa peran yang dapat dilakukan sektor keamanan serta menyediakan sumber daya untuk membangun sistem industri yang bebas emisi dan mengurangi karbon di udara demi melindungi peradaban manusia,” ungkapnya. Menurut mereka kita hanya segera bertindak untuk mencegah kepunahan umat manusia.