Rabu, Juni 16, 2021

Monster Laut Mengarungi Samudra Menuju Swiss

Must Read

Monster laut mengarungi samudra menuju Swiss di mana kantor pusat Nestlé berada. Para aktivis lingkungan mengumpulkan sampah lalu membentuknya menjadi monster dan mengembalikannya pada produsen plastik.

aksiografi.com – Monster laut plastik yang dikemas dari berbagai produk dari Nestlé tiba di kantor pusat Nestlé di Swiss pada Selasa, 16 April 2019. Organisasi pemerhati kelestarian lingkungan Greenpeace melakukan kampanye masif melawan monster sampah yang dihasilkan oleh korporasi, salah satunya Nestlé.

Aktivis yang menaman diri dari gerakan Break Free from Plastic membuat instalasi monster dari limbah plastik lalu mengantarkan monster plastik dari berbagai ukuran dan model ke kantor Nestlé di berbagai negara.

Monster plastik ini dikemas dengan membentuk model binatang laut siap menerkam sepanjang 20 meter. Tindakan ini dilakukan setelah aktivis Greenpeace menginterupsi rapat tahunan Nestlé. Mereka mendesak Nestlé agar mengakhiri ketergantungannya pada kemasan plastik sekali pakai. Mereka juga meminta Nestlé untuk berinvestasi pada sistem pengiriman alternatif yang berdasarkan pengisian ulang dan penggunaan kembali.

Baca Juga:   Sampah Plastik Terabaikan di Kampus

Menurut Greenpeace, Nestlé memang telah mengakui daur ulang tidak akan menyelesaikan permasalahan plastik. Akan tetapi, mereka tidak mengurangi jumlah plastik yang mereka produksi.Limbah plastik yang dihasilkan korporasi menimbulkan kerugian seperti kesehatan manusia, pencemaran lingkungan, kematian satwa liar, dan kerugian mata pencaharian dan usaha.

Baca Juga:   Greenpeace Basmi Monster Polusi Plastik

Nestlé menanggapi protes aksi Greenpeace. Nestlé menulis melalui akun Twitter-nya menulis bahwa mereka telah dan masih berupaya untuk mengurangi sampah plastik dari hasil produksi industrinya. “Dibutuhkan aksi signifikan untuk mengurangi polusi plastik. Kami ingin melakukan peran kami dalam menanganinya dan membuat suatu perbaikan. Kami ingin melanjutkan usaha kamu. Masih banyak yang akan dilakukan,” tulis akun @Nestlé.

Setiap tahun, Nestlé memproduksi 1,7 ton plastik sebagai kemasan produk. Sebanyak 98 persen merupakan plastik kemasan sekali pakai. Hasil laporan Global Alliance for Incinerator Alternative (GAIA) pada 7 Maret 2019 memperlihatkan bahwa Nestlé dan Unilever menjadi sumber utama polusi plastik dalam audit limbah yang dilakukan di Filipina.

Sepuluh Perusahaan Penghasil Sampah Plastik

Plastics Exposed: How Waste Assessments and Brand Audits are Helping Philippine Cities Fight Plastic Pollution“,  judul laporan GAIA. Data WABA menunjukkan hanya 10 perusahaan yang bertanggungjawab atas sepertiga (34,65%) dari total residual limbah yang dianalisis, dan hampir dua pertiga dari residu bermerek (64,39%).

Empat perusahaan di antaranya adalah perusahaan multinasional korporasi di dunia, seperti Nestlé, Unilever, Procter & Gamble, dan Coca-Cola. Dan Nestlé adalah peringkat pertama penghasil limbah plastik, sebanyak 3.906 potongan yang terdiri dari 8,12% limbah residu dan 14,86% limbah residu bermerek.

Baca Juga:   Waspada Gunung Merapi di Tengah COVID-19
Baca Juga:   Greenpeace Basmi Monster Polusi Plastik

Penulis: Gusti Zainal

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest News

7 Tahapan Teknik Budidaya Kacang Panjang agar Hasil Melimpah

7 tahapan teknik budidaya kacang panjang agar menghasilkan buah yang melimpah. Caranya mulai dengan memperhatikan persyaratan tumbuh hingga pengelolaan pasca panen.
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img