Lempeng Raksasa Berada di Lombok

Lempeng raksasa ternyata berada di Lombok. Lombok dan daerah sekitarnya menyimpan potensi gempa raksasa karena di bagian Selatan Lombok terdapat lempeng raksasa yang dikenal dengan lempeng Indo-Australia.

Pernyataan itu disampaikan oleh Professor Rolland A. Harris, setelah melakukan penelitian lapangan. Rolland menjelaskan bahwa Palung Jawa sampai saat ini belum melepaskan energi yang sudah terkumpul selama 500 tahun. “Sedikitnya gempa bumi besar selama kurun waktu tersebut menandakan bahwa ada kemungkinan munculnya gempa besar dengan magnitude 8 hingga 9”, ungkapnya saat seminar kegempaan di Universitas Nahdlatul Ulama NTB.

“Banyak yang bertanya ‘kapan?’ tapi itu adalah pertanyaan yang salah untuk gempa bumi karena tidak mungkin ada yang bisa mengetahui kapan pastinya. Kami hanya  ingin memberitahu potensi gempa bumi di Palung Jawa dan perlu digarisbawahi bahwa palung ini memanjang dari Sumatera di barat sampai Sumba di timur, jadi belum tentu episenter gempa yang dimaksudkan akan terjadi di Lombok,” katanya.

Baca Juga: Tsunami Siap Gulung Lombok

Dia menjelaskan potensi gempa hanya dapat diperkirakan tempat dan kekuatan sementara waktu akan terjadi tidak dapat diprediksi. Prediksi kekuatan gempa berdasarkan sejarah kegempaan masa lalu di lokasi tersebut.

“Saya meminta maaf atas pemaparan saya tentang potensi gempa di Selatan Lombok saat seminar kegempaan di Universitas NU NTB dan dipublikasikan media massa yang menyebabkan masyarakat justru panik. Tetapi lebih baik masyarakat tahu sehingga bisa mempersiapkan diri,” ungkapnya.

“Kami berharap masyarakat Lombok lebih fokus pada kesiapsiagaan. Itulah maksud kedatangan kami ke Lombok untuk membantu masyarakat memahami risiko dan mengajak untuk meningkatkan kesiapsiagaan,” kata Rolland.

Ahli Geologi Amerika Serikat ini juga menyarankan masyarakat untuk menghentikan pembangunan yang menggunakan material tidak bagus. Dia menganjurkan menggunakan bahan kayu.

“Tidak satu pun atau hanya sedikit bangunan yang berbahan dasar kayu rusak karena gempa-gempa tahun 2018 di Lombok. Amankan barang-barang yang kemungkinan dapat menimpa Anda ketika terjadi gempa,” saran Rolland.

Bagi masyarakat pesisir pantai sebaiknya menggunakan prinsip 20-20-20. “Ketika merasakan gempa selama lebih dari 20 detik, meskipun tidak besar gempanya, Anda harus mengevakuasi diri setelah gempa berhenti. Kemungkinan besar tsunami akan tiba dalam waktu 20 menit setelah gempa dan kemungkinan ketinggian tsunami akan mencapai 20 meter, jadi harus mengevakuasi diri ke tempat yang tinggi atau gedung tinggi yang minimal ketinggiannya 20 meter,” katanya. (SY)