Minggu, Juli 25, 2021

KPPI Belajar Budidaya Mangrove di Sinjai dan Takalar

Must Read

KPPI belajar budidaya Mangrove di Sinjai dan Takalar guna mendapatkan pengetahuan untuk diterapkan di daerahnya yang berdampak ablasi dan abrasi.

Aksiograf.com – Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan (KAPABEL) telah membentuk Kelompok Peduli Perubahan Iklim di lima desa di Pinrang sebagai desa dampingan KAPABEL. KPPI sebagai kelompok pemuda desa diharapkan akan menjadi lokomotif penggerak peduli terhadap perubahan iklim melalui kegiatan mitigasi dan adaptasi.

Peningkatan kapasitas anggota KPPI melalui pelatihan-pelatihan dan diskusi rutin. KAPABEL mengajak anggota KPPI melakukan kunjungan belajar Kegiatan pelatihan budidaya tanaman Mangrove dengan melibatkan KPPI sebagai peserta belajar telah berlangsung. Kawasan Wisata Tongke-Tongke, Sinjai dan Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup (PPLH) Puntondo Takalar sebagai lokasi pelatihan. Kedua lokasi ini dipilih karena dianggap paling mewakili untuk memberikan edukasi sekaligus gambaran kepada peserta terkait pemanfaatan kawasan hutan mangrove dan kawasan pembibitan dan penanaman mangrove.

Anggota KPPI yang terlibat sebanyak 39 orang yang terdiri atas 27 laki-laki dan 12 perempuan melakukan kunjungan belajar di Hutan Mangrove, Tongke-Tongke, Sinjai pada 23 Maret 2021. Peserta diberikan materi pengenalan kawasan, jenis mangrove, manfaat mangrove, dan pemanfaatan mangrove dalam kawasan wisata oleh narasumber dari WWF.

Anggota KPPI berbagi pengalaman dengan salah satu inisiator kawasan hutan mangrove Tongke-Tongke, H. Tayib. Cerita sukses H. Tayib bersama kelompok masyarakat di sekitar kawasan itu merupakan bahan diskusi yang menarik pada kunjugan itu.

diskusi budidaya mangrove
Foto: KAPABEL / AIs

H. Tayib menceritakan bagaimana upaya yang dia lakukan untuk menyelamatkan kawasan itu 30 tahun lalu.  Berangkat dari keprihatinan melihat kondisi tambak masyarakat akibat abrasi, ia kemudian mencoba menanam mangrove dan berhasil tumbuh. Ia terus berinisiasi menanam mangrove dan mengedukasi masyarakat agar mau terlibat melakukan penanaman bersama-sama.

Baca Juga:   Lempeng Raksasa berada di Lombok

Ia bersama kelompoknya masih terus melakukan penanaman hingga saat ini. Kesuksesannnya itu akhirnya ia banyak dilibatkan melakukan upaya penanaman mangrove di beberapa daerah di Sulsel dan di luar sulsel. Ia pernah mendapat penghargaan Kalpataru bidang Penyelamat Lingkungan di masa Pemerintahan Susilo Bambang Yudoyono.

Baca Juga:   Lidah Mertua Penjaga Lingkungan

Peserta juga melihat langsung pembibitan mandiri milik H. Tayib. Saat kunjugan itu, H. Tayib menjelaskan teknik budidaya pembibitan mangrove mulai dari cara pemilihan bibit unggul hingga teknik penanaman bibit. Tiga konsep H. Tayib dalam upaya rehabilitasi yaitu kesabaran, ketekunan, dan keikhlasan.

Setelah melakukan kunjungan belajar di Sinjai, anggota KPPI melakukan kegiatan di Pusat pendidikan lingkungan hidup (PPLH) Puntondo, Kabupaten Takalar. Pada hari pertama peserta diberikan informasi seputar program yang ada di PPLH Puntondo serta ketentuan dan hal hal yang tidak diperbolehkan dalam kawasan PPLH Puntondo yang disampaikan lansung oleh Pak Mulyadi selaku pengelola kawasan PPLH Puntondo.

Pelatihan budidaya mangrove dipandu langsung oleh Idham Malik dari Aquaculture Specialist Yayasan WWF dan Andi Awal Campu, S.Pi, Fasilitator AIP Rehabilitasi Mangrove Sulsel dari Yayasan Word Wildlife Fund (WWF). Materi pelatihan diawali dengan pemuratan Video lengkap dari WWF terkait BMP Protokol Penanaman Mangrove yang memuat panduan penanaman mangrove pada kawasan tambak udang tradisional maupun jenis tambak lainnya.

kppi melakukan-kunjungan belajar lapangan
Foto: KAPABEL / AIs

Usai menyaksikan video itu, pemateri memberikan pemahaman mendalam terkait identifikasi kawasan pembibitan dan penanaman, identifikasi jenis mangrove, teknik pemilihan bibit mangrove, teknik pembibitan, dan teknik penanaman mangrove. Narasumber juga berbagi pengalaman dalam melaksanakan penanaman mangrove selama berkecimpung dalam yayasan WWF.

Setelah kegiatan kelas, peserta melakukan studi lapangan untuk melihat lansung jenis-jenis mangrove yang ada di PPLH Puntondo.  Peserta diarahkan untuk mengenali jenis mangrove dengan melihat ciri-ciri mangrove berdasarkan akar, batang, daun dan bunga.

Baca Juga:   Anjing Serigala Purba berusia 18.000 tahun

Malam harinya, diberikan agenda tambahan yaitu diskusi buku “Perikanan atau Peri-kiri” yang ditulis Idham Malik. Buku itu mengulas isu dan permasalahan lingkungaan maupun tambak yang ada di beberapa kabupaten termasuk beberapa desa intervensi. Salah satu isu yang dibahas seperti pengalihan fungsi lahan mangrove, perilaku budidaya tambak tradisional dan ketimpangan kebijakan yang terjadi di kabupaten pinrang yang tidak pro terhadap rakyat serta kesalahan dan kebiasaan LSM dalam melakukan pendampingan yang tidak tepat sasaran.

Hari terakhir, perserta diajak melakukan penanaman mangrove di kawasan PPLH Puntodno. Sekirat 2.000 batang bibit berhasil ditanam anggota KPPI secara bersama-sama dengan pengelola PPLH Puntondo. Penanaman ini bertujuan untuk memberikan gambaran kepada peserta terkait teknik pembuatan dan pembibitan mangrove. Informasi yang disampaikan seperti teknik pemilihan substrat, teknik pemilihan propagul,  teknik pembuatan pembibitan serta pengenalan jenis mangrove yang berhasil dibibitkan di PPLH Puntondo.

Baca Juga:   KAPABEL Bersama POKJA PPRKD Sulsel Menyusun Rencana Strategi Ketahanan Iklim
praktek menaman mangrove
Foto: KAPABEL / AIs

Selama ini PPLH Puntondo telah berhasil melakukan pembibitan 3 jenis mangrove yaitu Rhizopora mucronata, Rhizopora apiculata dan Stylosa. Beberapa jenis lain tumbuh sendiri seperti Lumnitzera R, dan saat ini yang masih dalam tahap riset pembibitan adalah jenis api-api.

Sebelum kegiatan ditutup, peserta diberi materi monitoring mangrove yang dilakukan pada pembibitan mangrove maupun pasca tanam bagaimana melakukan pengawasan hama, seperti ternak maupun bakteri yang dapat menyerang propagul. Hama bakteri dapat menyerang propagul sehingga pertumbuhan bibit terhambat. Sedangkan hama ternak juga sering merusak tanaman yang sudah tumbuh dan mengeluarkan daun.

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest News

7 Tahapan Teknik Budidaya Kacang Panjang agar Hasil Melimpah

7 tahapan teknik budidaya kacang panjang agar menghasilkan buah yang melimpah. Caranya mulai dengan memperhatikan persyaratan tumbuh hingga pengelolaan pasca panen.
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img