KAPABEL Bersama POKJA PPRKD Sulsel Menyusun Rencana Strategi Ketahanan Iklim

Must Read

KAPABEL bersama POKJA PPRKD Sulsel melakukan diskusi rutin dalam membahas program Adaptasi Perubahan Iklim di Sulawesi Selatan.

Aksiografi.com – KAPABEL (Konsorsium Adaptasi Perubahan Iklim dan Lingkungan) mengimplementasikan program Adaptasi Ekosistem DAS Saddang berbasis Pangan Hutan yang sumber dananya dari Adaptation Fund dan Kemitraan sebagai National Entity. Ada empat kabupaten di DAS Saddang yang menjadi site program yaitu kabupaten Toraja Utara, Tana Toraja, Enrekang, dan Pinrang. Salah satu tujuan program ini yaitu adanya penguatan kebijakan lintas sektor dalam memastikan keberlanjutan adaptasi perubahan iklim.

Diskusi rutin yang difasilitasi KAPABEL dilaksanakan di Red Corner Cafe pada Selasa, 2 Maret 2021 yang melibatkan tim Pokja PPRKD yang kemudian dilanjutkan diskusi konsultasi pada tanggal 5 Maret bersama tim Ahli Spacial dan Climate Change Universitas Hasanuddin. Mereka membahas upaya internalisasi program API dalam kebijakan pemerintah daerah melalui POKJA PPRKD. Salah satu Outcome (hasil) yang ingin dicapai dari program ini yaitu “Penguatan Sistem Kelembagaan dan Kapasitas untuk Mengurangi Risiko Iklim termasuk Degradasai Sosio-Ekonomi dan Lingkungan” dan POKJA (Kelompok Kerja) PPRKD (Penyusunan Perencanaan Rendah Karbon Daerah) sebagai mitra dalam mencapai outcome itu.

diskusi rutin POKA PPRKD dan KAPABEL

Awalnya pokja PPRKD ini bernama RAD-API (Rencana Aksi Daerah-Adaptasi Perubahan Iklim) lalu menjadi Pokja RAD-GRKD (Rencana Aksi Daerah-Gas Rumah Kaca Daerah). Saat ini, Pokja RAD-GRKD bertransformasi menjadi POKJA PPRKD dengan fokus programnya adalah penurunan emisi gas rumah kaca.  

Upaya TLKM (Tim Layanan Kehutanan Masyarakat) sebagai lead konsorsium KAPABEL dalam menginternalisasi program API di tingkat daerah dapat terwujud dengan melaksanakan kajian Kerentanan dan Risiko Perubahan Iklim Ekosistem DAS Saddang khususnya di kabupaten intervensi programnya. “Hasil Kajiani ini salah satu tujuannya akan menjadi dokumen pendukung bagi pemerintah daerah dalam mengeluarkan kebijakan atau rencana strategis.” Kata Ichwan, direktur TLKM.

Hasil diskusi ini menyepakati menyusun rencana strategi (renstra) API berbasis DAS Saddang berdasarkan hasil Kajian Kerentanan dan Risiko Perubahan Iklim yang dilaksanakan KAPABEl hingga Juni 2021. Hasil kajian ini akan menjadi dokumen pendukung dalam mendorong program ketahanan iklim (climate resilience) melalui perubahan RTRW dan RPJMD sehingga rencana strategi ketahanan iklim dapat dirumuskan dengan baik.  

“Jadi sebetulnya RAN API sudah menargetkan juga tapi itu adalah National Action Plan (Rencana Aksi Nasional) dan kita mengimplementasikannya di wilayah DAS Saddang,” kata Dr. Roland A. Barkeley, ahli Spatial & Climate Change dari Universitas Hasanuddin.

Dalam Rencana Program Jangka Menengah Nasional (RPJMN) itu sudah ditegaskan, lanjut Roland,  bahwa ada empat sektor prioritas, di dalam presentasi ini, diperlihatkan water. Dengan adanya Kajian Kerentanan dan Risiko Perubahan Iklim berbasis DAS Saddang yang akan dilaksanakan KAPABEL, kita akan melihat bagaimana perubahan iklim DAS Saddang dalam 20 – 30 tahun ke depan.

“Dengan menggunakan The Soil and Water Assessment Tools sehingga kita bisa melihat koneksitas antara hulu dan hilir DAS Saddang. Kabupaten-kabupaten dampingan KAPABEL ini ada di Hulu, ada di tengah, dan ada di hilir DAS Saddang, maka kita fokusnya pada ketersediaan air melalui program rehabilitasi dan sedimentasi terutama di pesisir yang fokusnya rehabilitasi mangrove,’ jelas Roland.

Kaitannya dengan program Pokja PPRKD Provinsi dengan kegiatan KAPABEL di DAS Saddang sudah sejalan. Meskipun KAPABEL fokus kegiatannya pada bagaimana masyarakat ekosistem DAS Saddang beradaptasi terhadap perubhana iklim namun kegiatan-kegiatannya juga ada berupa mitigas seperti rehabilitasi lahan yang akan dijadikan area PS seperti penanaman MPTs 6.000 pohon di tiga kabupaten dan penanaman mangrove di wilayah hilir.

“Jadi sebenarnya kalau berbicara perubahan iklim, mitigasi dan adaptasi itu sangat berhubungan dan merupakan satu kesatuan. Kalau kaitannya dengan RAD GRK, kan itu ada tutupan lahan, ada transportasi, ISDM, ada energi, mangrove, perikanan, dan kelautan masuk. Bisa jadi contoh bagaimana program-program nanti. Memang fokusnya DAS SADDANG. Ada persinggungan tapi tidak 100 persen,” jelas Roland.

Penjelasan dari pak Roland A. Barkeley memberikan masukan yang baik bagi Pokja PPRKD Sulsel sehingga kegiatan terkait dengan penurunan emisi rumah kaca itu tidak selalu diliat sebagai upaya mitigasi saja tanpa melihat ada dampak adaptasinya.

Anggota Pokja PPRKD Sulsel menjelaskan program GRK

“Apa saya kira apa yang mau kita kerjakan ke depan, itu sudah mulai kelihatan. Kita memang besar harapan kegiatan kerja PPRK ini juga bisa menyentuh. Apa yang kami interpretasi, pembangunan pilot project PPRK, antara mitigasi dan adpatasi itu sangat sulit dipisahkan, jadi nanti kita akan mensosialisasikan sehingga bisa mejadi satu kesatuan,” kata ibu Ana dari Bappelitbangda Sulsel, salah satu anggota Pokja PPRKD Sulsel.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest News

Pohon Tin adalah Pohon Tertua dalam Sejarah Kemanusiaan

Pohon tin adalah pohon tertua dalam sejarah kemanusiaan. Buah ini juga menjadi salah satu nama surah dalam Al-Quran dan dijadikan sumpah Allah
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img