Banjir Bandang Akibat Laju Erosi yang tinggi

Banjir bandang akibat erosi Hulu Das Rongkong meningkat setiap tahun. Hasil riset menyebutkan ratusan ton erosi terjadi setiap tahunnya. Banjir Bandang Luwu Utara Senin malam, 13 Juli 2020, telah diprediksi sejak lama.

aksiografi.com – Banjir bandang yang melanda Luwu Utara pada Senin malam 13 Juli, sekitar pukul 21.00, membawa material lumpur, pohon tumbang, memenuhi perkampungan dan pemukiman warga, jalan utama, perkebunan, persawahan dan tambak. Bencana ini merupakan bencana terbesar yang terjadi di Luwu Utara dalam beberapa tahun terakhir.

Daerah Aliran Sungai (DAS) Rongkong memiliki luas 182.011,3 hektarare (ha) yang didominasi hutan campuran 110.839,5 ha (61,4%) dan kebun campuran 44.098.5 ha (23,9%). DAS Rongkong mencakup Kabupaten Luwu Utara dan Kabupaten Luwu. Ada tujuh kecamatan di Kabupaten Luwu Utara dan dua kecamatan di Kabupaten Luwu yang masuk DAS Rongkong.

Tabel luas wilayah yang masuk wilayah DAS Rangkong per kecamatan di Luwu Utara

Hulu DAS Rongkong berada di Gunung Kambuno dan hilirnya di teluk Bone. Sejak puluhan tahun berdasarkan hasil riset menunjukkan kawasan DAS Rangkong menjadi usulan rehabilitasi yang menjadi prioritas.[1]

Iklim DAS Rongkong bertipe A yaitu sangat basah. Jenis  tanah dominan podsolik merah kuning sebanyak 45,5% dan kelas lereng didominasi lereng sangat curam diatas 40%. Kedua indikator ini sangat memungkinkan terjadinya bencana besar di Luwu Utara seiring dengan laju kerusakan hutan di hulu DAS Rongkong.

Nilai Koefisien Regim Sungai (KRS) mempunyai kecenderungan semakin meningkat dari tahun ke tahun dengan tingkat erosi 2,01 ton per herktarare per tahun dan laju sedimentasi 1,35 milimeter per tahun.  Berdasarkan hasil analisis aliran permukaan, penyumbang aliran permukaan terbesar adalah kebun campuran dan kebun sejenis.

Rongkong: Hutan Lindung yang Diusulkan Pelestariannya tahun 1982

Tahun 1982, Rongkong menjadi satu-satunya Hutan Lindung (HL) yang masuk dalam pengusulan pelestarian. Kawasan pengusulan lainnya adalah Cakar Alam, Taman Wisata, dan Suaka Margasatwa. Padahal waktu itu terdapat 27 kawasan hutan yang tersisa, daerah-daerah pelestarian, dan daerah pelestarian di Sulawesi Selatan.[2]

Hutan Lingdung Rongkong menjadi daerah pelestarian alam utama di Sulawesi dengan nilai pelestariannya. Indeks nilai pelestarian adalah angka yang dihitung dari enam faktor kekayaan jenis, luas habitat, kelangkaan, laju kehilangan, derajat perlindungan dan derajat kekhususan, sedemikian rupa. Semakin tinggi nilainya maka kawasan itu diberi simbol (p) – diusulkan pada tahun 1982.  

Prediksi Banjir Bandang Tahun 2011

Dosen Fakultas Kehutanan Unanda Palopo, Yumna, pernah memprediksi laju erosi DAS Rongkong sebesar 403.727,77 ton pada tahun 2011. Erosi terbesar terjadi di Kecamatan Sabbang sebanyak 68.151,69 ton dan Kecamatan Limbong sebesar 41.136,14 ton. Kedua kecamatan itu masuk dalam kategori tingkat bahaya sangat berat (IV-SB). Keduanya masuk dalam wilayah DAS Rangkong, masing-masing kecamatan Sabbang seluas 68.152 ha atau 35,73% dan Kecamatan Limbong seluas 41.136 ha atau 21,57%.

Hasil survei seperti yang dimuat di laman forest-unanda, 02 Agustus 2012, menyebutkan terjadinya aktivitas sosial ekonomi masyarakat terhadap alih fungsi lahan dari kawasan lindung menjadi areal pertanian dan perkebunan dan pemukiman semakin tinggi. Alih fungsi itu memberikan dampak meningkatnya lahan kritis sebanyak 87,2 persen dari total luas DAS Rongkong. Hasil kajian ini telah memprediksi banjir bandang akibat erosi yang tinggi setiap tahun.

Laporan Kerusakan Hulu DAS Rongkong

Tahun 2017, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) menyebutkan terjadi pengrusakan dan pembakaran hutan di bagian Hulu DAS Rongkong. Laporan itu ditindaklanjuti Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Luwu Utara pada tanggal 26 Februari 2017 dengan melakukan investigasi di lapangan. Hasilnya Dinas Lingkungan Hidup membenarkan adanya pengrusakan Hutan di Hulu DAS Rongkong. Terdapat pembukaan lahan perkebunan pada wilayah kritis pada kemiringan bukit. Juga terjadi pembakaran hutan di bagian hulu DAS Rongkong. Di beberapa titik terdapat longsor dan rawan longsor antara Desa Mingangan dan Desa Komba, Kecamatan Rongkong.

Tidak cukup setahun setelah laporan BPBD masuk Luwu Utara kebanjiran. Pada 31 Mei 2018, tiga desa dilanda banjir di dua kecamatan di Luwu Utara dilanda banjir. Desa Lembang-Lembang di Kecamatan Baebunta dan Desa Wara, Desa Limbong, Desa Limbong Ware, Desa Cenning, dan Desa Pombakka  di Kecamatan Malengke Barat. Beberapa titik tanggul jebol akibat volume air tinggi akibat curah hujan yang terjadi selama dua hari.  

Rencana Pengelolaan HL Rongkong

Tahun 2017 Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mengeluarkan Kepmen LHK Nomor 665/MENLHK/SET/JEN/PLA.0 tanggal 28 November 2017 tentang Penetapan Wilayah Kesatuan Pengelolaan Hutan Lindung (KPHL) dan Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Provinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayah kawasan hutan seluas 419.156 hektarare yang terdiri dari Hutan Lindung 332.427 ha, Hutan Produksi Terbatas 81.718 ha, dan Hutan Produksi 5.009,59 ha.

Surat Keputusan (SK) Kelembagaan keluar tanggal 19 Januari 2018 melalui Peraturan Gubernur Sulawesi Selatan Nomor 45. Pembentukan KPHL Unit IX Rongkong bertujuan mengatasi permasalahan hutan secara umum seperti perambahan dan penguasaan lahan hutan yang telah menjadi areal perkebunan, areal pertanian, dan pemukiman, serta ilegal logging dan permasalahan batas kawasan.[3]

HL Rongkong memiliki potensi ekonomi seperti kayu, non kayu, dan jasa lingkungan. Kawasan hutan tentu memiliki banyak potensi kayu.

Peta KLHK Rongkong

Selain kayu, HL Rongkong juga memiliki potensi non-kayu seperti Damar, Rotan, Lebah Madu Trigona, Aren, Kayu Manis dan Getah Pinus, dan potensi jasa lingkungan yaitu Air Terjun Sarambu Alla Desa Kalotok, Air Terjun Timboro Kopi Desa Sassa, Wisata Mangrove Desa Ladongi, Camping Ground dan Spot Selfie Desa Rinding Allo.

Di kawasan itu telah dikeluarkan izin pemanfaatan kawasan hutan dengan skema Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan (PSKL). Izin diberikan kepada PT Hadji Kalla melalui SK 71/1/PPHK/PMDN/2017 tanggal 18 Juli 2017 dan Pemerintah Kabupaten Luwu Utara melalui SK.3/Menhut-II/2015 pada tanggal 3 Januari 2014 dengan jenis kegiatan Non-Tambang.

Peta Potensi Bencana di Sulawesi Selatan

Pada tahun 2017 Pusat Studi Kebencanaan Universitas Hasanuddin melakukan kajian potensi bencana di Sulawesi Selatan. Kajian itu menghasilkan peta potensi bencana tsunami, longsor, banjir, dan gempa bumi. Hasil kajian itu pernah dimuat Journal of Physics tahun 2019 dengan judul “Geological constrainsts for disaster mitigation model in South Sulawesi.

Salah satu daerah yang berpotensi banjir dengan tingkat risiko tinggi adalah Luwu Utara, khususnya Masamba dan sekitarnya, kata Prof. Dr. Adi Maulana, ST, M.Phil, Guru Besar Teknik Geologi Unhas sebagaimana dimuat masambapos.com (15/07/2020). Daerah Masamba dan sekitarnya adalah wilayah pedataran yang sangat luas, terbentuk dari proses erosi dan sedimentasi selama ribuan tahun.

Peta Zonasi Banjir di Sulawesi Selatan
keterangan: Peta Zonasi Banjir di Sulawesi Selatan. Sumber: Journal of Physics

Luas pedataran itu sekitar 50 kilometer kali 30 kilometer yang disusun material alluvial dengan sumber batuan dari dari pegunungan. Sisi utara terdapat pegunungan formasi Kambuno berupa batuan dengan komposisi granitik sampai dengan dioritik. Sisi bagian timur terdapat pegunungan dengan komposisi batuan metamorfik dari komplek Pompangeo. Daerah itu bagaikan cekungan yang diapit pegunungan dan dibatasi Teluk Bone di bagian selatannya.

Di daerah hulu, proses pelapukan terjadi sangat intens. Ketebalan soil mencapai 5 hingga 7 meter dan beberapa titik tertentu ditemukan hingga 8 meter tutupan soil. “Banyaknya aktivitas pembukaan lahan perkebunan dan pemukiman yang tidak terkontrol mengakibatkan terjadinya proses erosi yang sangat signifikan,” kata Profesor Geologi termuda di Indonesia ini.

Tanah menjadi rentan terhadap erosi permukaan dan berkurangnya vegetasi. “Tanah di bagian hulu menjadi jenuh dan tidak mampu lagi untuk menyerap air hujan dengan baik,” kata Prof. Adi Maulana.

Terbukanya lahan yang luas mempercepat proses erosi semakin tinggi dan menghasilkan tumpukan material sedimen yang semakin besar mengisi saluran sungai. Kapasitas atau volume sungai menjadi berkurang sehingga terjadi pendangkalan. Banjir bandang akibat erosi yang sangat tinggi dalam beberapa tahun ini.


[1]              Anon, 1981a. Pola Pengendapan dan Komposisi mineral berat delat di muara Sungai Rongkong. Pusat Studi Lingkungan Hidup dalam Ekologi Sulawesi Selatan, 1987, Hal. 107, Gajah Mada University Press.

[2]              —      , 1982a. National Conservation Plan for Indonesia Vol. V, Sulwesi, FAO Bogor dalam Ekologi Sulawesi Selatan, 1987, Hal. 109, Gajah Mada University Press.

[3]              KPHL Wadah Penyuluh Kehutanan Atasi Masalah Hutan, portal.luwuutarakab.go.id.