Australia Dilanda Suhu Panas Ekstrim

Australia dilanda suhu panas ekstrem selama 2019 yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan terluas sepanjang sejarah kebakaran di negara itu.

aksiografi.com – Australia dilanda suhu panas yang mencapai 37,7 derajat Celsius hingga 43,3 derajat pada puncaknya 20 Desember 2019. Suhu yang cukup ekstrem itu mengakibatkan terjadinya kebakaran hutan. Tahun 2019 merupakan tahun terpanas dan terkering di Australia sepanjang sejarah.

“Suhu menjadi sangat panas dengan cepat. Kengerian pun terjadi,” kata Spehen Brend, ahli biologi. Suhu yang ekstrem itu membuat kelelawar berkepala abu-abu sekarat. Tanggal 22 Desember suhu mencapai 37,7 derajat Celsius, ada sekitar 4.500 kelelawar mati–sekitar 15% musnah dari populasi koloni.

Kelelawar terbang merupakan spesies yang terancam punah oleh International for the Conservation of Nature (IUCN). Koloni spesies ini termasuk Pteropus poliocephalus atau lebih dikenal dengan rubah terbang berkepala abu-abu (Gray-headed-flying-fox) termasuk megabats. Bentangan sayap hewan ini dapat mencapai 5 sampai 6 kaki (1,5 hingga 1,8 meter ) dengan berat lebih dari 2,2, lbs (998 kg). Koloni ini berada di Yarra Bend Park Melbourne, Australia.

Koloni rubah kelelawar terbang di wilayah lain mengalami nasib yang sama. Tanggal 4 Januari, ribuan bayi rubah terbang mati di sarangnya di sekitar New South Wales, saat itu suhu mencapai 121 derajat Fahrenheit.

Hal yang sama terjadi di Campbelltown, nasib koloni rubah terbang yang tinggal di dekat stasiun kereta kota merasakan efeknya. Sekitar 240 ekor yang kebanyakan bayi mati. “Mereka mendidih. Orak mereka seperti digoreng dan mereka menjadi tidak koheren akibat gelombang panas,” ungkap Ryan manajer koloni untuk kelelawar Campbelltown sebagaimana dilansir livescience.

“Kondisi ini sangat menakutkan bagi semua spesies dan terjadi hampir di semua wilayah,” ungkap Brend.

Walaupun Yarra Bend Park belum dilanda kebakaran, namun habitat rubah kelelawar terbang yang berada di zona api di sepanjang pantai timur Australia.

Malang bagi rubah terbang berkepala abu-abu karena suhu ekstrem panas terjadi bersamaan dengan musim persalinan. Bayi-bayi masih menyusui, sedang induk masih lemas, kurang energi–membuat keduanya lebih rentan terhadap suhu panas.

Pada September dan Oktober–waktu musim semi di Australia dan musim melahirkan bagi rubah kelelawar terbang dengan panjang 11 inci ini–banyak yang telah kembali ke taman dari imigrasi dingin mereka di pesisir pantai.

Rubah kelelawar terbang berperan penting di hutan karena kelelawar ini kebanyakan memakan nektar, serbuk sari, dan buah. Spesies ini berperan ekologi seperti peran lebah. Rubah terbang ini membawa benih, menyerbuki pohon, dan menyuburkan hutan pada malam hari. “Rubah terbang membutuhkan hutan dan hutan memerlukan rubah terbang,” ungkap Brend sebagaimana dilasir nationalgeographic.com.