Puasa: Menapak Jalan Kearifan Hidup

Must Read

Puasa: Menapak Jalan Kearifan Hidup

Oleh: Dr. Mahpuddin

aksiografi.com – Kitab suci (Al-quran) merupakan jagat simbolis yang kaya makna. Strategi pengungkapan pesannya pun cenderung memakai gaya puitik-metaforik. Fungsinya sebagai medium perantara yang menghubungkan antara ketakterbatasan makna realitas Ilahi dengan keterbatasan realitas manusia. Untuk sampai pada pemahaman kognitif-konseptual, dibutuhkan jalan panjang dan berjenjang dengan penafsiran yang berlapis.

Paul Ricoeur—filsuf besar Prancis abad kontemporer, adalah satu di antara sedikit pemikir hermeneutik modern yang sangat serius dalam hal pembacaan teks kitab suci. Teks menyingkapkan apa dan menghendaki perubahan apa dalam hidup saya ? Melalui teks, seolah-olah Yang Ilahi “mewahyukan diri pada saya. Bagi Ricoeur, teks suci tidak sekadar memanggil untuk diinterpretasi, tetapi memprovokasi diri agar masuk ke dalam permenungan filosofis mengenai pergumulan eksistensial di dunia ini. Pembacaan teks pun diletakkan dalam relasi pemaknaan atas hidup ini.

Maqam: Bangunan Kesadaran Manusia

Sebagai teks suci memiliki kandungan hierarki makna yang korelatif dengan “maqam” atau bangunan kesadaran manusia meliputi kesadaran; indrawi, mental-psikologis, pikiran, imajinasi, intelegensia dan batin-ruhaniah. Ekspresi simbolis dengan pemaknaan berjenjang–hakekatnya berakar pada kemurnian pengalaman spiritual Nabi Muhammad—lalu termanifestasi dalam wujud teks dan laku ritus peribadatan. Suatu ekspresi kesadaran berciri gerak sentrifugal yang menyembul dari pusat kedalaman batin menuju permukaan (lahiriah).

Misal, surah Al-Baqarah ayat 183 sebagai sumber doktrinal kewajiban berpuasa. Pada level makna terendah, pesan ayat ini sarat dengan kandungan imperatif hukum yang sangat tegas. Tujuannya adalah untuk mendisiplinkan diri (pikiran dan perilaku) sebagai langkah awal yang diperlukan guna menapaki jenjang (maqam) kesadaran batin selanjutnya menuju atmosfir puncak yakni “taqwa”. Dalam tradisi tasawuf dikenal formula berjenjang (mazilah) seperti; fiqhy (hukum), syariat, tareqat, mahabbah (cinta) dan taqwa. Jenjang-jenjang hierarki tersebut merupakan keniscayaan dalam proses pengembaraan spiritual.

Berbeda dengan spirit ayat di atas, dalam hadits Qudsi Allah berfirman, “puasa hamba-Ku adalah untuk-Ku, dan Akulah yang akan membalasnya”. Hadits ini berisi tawaran etis dan sapaan kasih sayang-Nya yang hendak menyentuh hati orang-orang beriman agar menjalankan puasa. Sapaan bermakna seolah-olah Allah mengambil manfaat dari laku puasa dengan melibatkan rasa kepemilikan atas jerih payah hambah-Nya. Padahal Allah Maha Kaya atas segala sesuatu.

Dua gaya komunikasi yang berbeda di atas menunjukkan bahwa ibadah puasa bisa didekati dengan ragam pemaknaan. Puasa dapat dipahami pada level; hukum (fiqhy), etik, cinta dan hikmah. Pemaknaan pada level hukum diperlukan untuk memberi kejelasan eksoterik guna menyediakan formula dasar bagi keharusan berpuasa. Adapun pada level etik dan sapaan cinta sebagai pemicu kesadaran lanjut guna merenungkan lebih dalam mengenai kandung hikmahnya. Level tersebut merupakan wilayah refleksi dan medan jelajah batin para penghayat puasa.

Secara semantik, Puasa (shaum) berarti “menahan” untuk tidak makan dan minum (juga hubungan badan suami-isteri) sejak terbit fajar hingga terbenam matahari. Pada Taraf ekstrim, puasa adalah sebentuk aksi “mogok makan” yang mana pelakunya sedang menempuh jalan kematian. Hanya saja “mogok makan” di sini dikonsepkan menurut batas-batas kesehatan, sehingga pelakuknya sekadar diajak untuk mengalami dan menghayati situasi tertentu yg seolah-olah anti kehidupan.

Makan secara wajar adalah suatu aktivitas yang baik karena menyuplai energi bagi vitalitas kehidupan. Baik kondisi lapar maupun kenyang secara berlebihan bisa mengantar pelakunya ke jurang kematian. Menyadari kedua kutub ekstrim tersebut diharapkan dapat menemukan titik keseimbangan harmoni yaitu keadaan tubuh yang sehat.

‘Kenyang’ adalah Nafsu

Terminologi “kenyang” bisa dimaknai sebagai nafsu keterikatan kenikmatan duniawi yang wujudnya berupa hasrat kepemilikan harta, seks, kekuasaan politik. Tiga figur historis yang menjadi prototype keterikatan tersebut yakni; Qarun, kaumnya Nabi Luth dan Fir’aun. Hasrat keterikatan tersebut secara alegoris digambarkan seperti sifat api yang membakar.

Manusia modern cenderung “beragama Majusi”–yaitu para pemuja api yang tidak hanya membakar diri sendiri, tetapi melumatkan orang lain dalam skala luas maupun global. Bahkan bisa membakar seluruh wujud di alam semesta. Misal, segelintir orang di negeri ini dengan kepemilikan omzet kekayaan seluas satu wilayah kecamatan bahkan kabupaten—sehingga menimbulkan efek kesenjangan yang makin melebar antara yang kaya dan miskin.

Demikian halnya hasrat kuasa yang berlebihan melahirkan tirani atau kesewenang-wenangan dengan memaksakan rumusan kebenaran menurut versinya melalui jalan represif maupun pengendalian kesadaran publik. Hasrat kuasa pun membentuk pilihan-pilihan ideologi yang dijabarkan ke dalam produk perundang-undangan, pasal-pasa hukum maupun arah kebijakan publiknya. Bukankah itu filosofi hidup orang-orang “beragama Majusi” ?

Kesadaran tentang “batas” akan merelatifkan kandungan nilai suatu perkara atau kondisi tertentu. Misalnya, oposisi biner antara kebenaran dan ketidak-benaran atau kebaikan dan keburukan menjadi relatif bahkan saling mencemari (bastardisasi) ketika tegangan keduanya mengabaikan aspek lain yang mesti terintegrasi di dalamnya seperti nilai ketepatan proses pencapaiannya. Kebenaran dan kebaikan itu adalah orientasi hidup yang mesti diraih namun tetap mempertimbangkan aspek-aspek seperti; kejujuran, keadilan, kewajaran, cinta dan kearifan.

Para pewarta kebenaran sering terjebak ke dalam hasrat “menyadarkan” orang lain tanpa kearifan metodologis. Misi amar ma’ruf yang dijalankan secara brutal seperti pendekar mabuk yang melibas musuh-musuhnya tanpa ampun karena ambisinya menjadi dewa penyelamat.

Demikian halnya para petarung kapital yang menggumuli dunia bisnis gelap yang memakai praktik tipu muslihat untuk meraih kemewahan. Atau komplotan bandit yang berpetualang di ranah politik praktis yang haus kekuasaan.

Orientasinya hanya terpusat pada hasil capaian dengan menghalalkan segala cara. Merajalelanya para pemuja pragmatisme politik ala Machiavelli yang memakai instrumen-instrumen demokrasi sejauh menguntungkan diri sendiri. Tampil di ruang-ruang publik dengan manajemen pencitraan diri yang sempurna, sambil menyembunyikan perangai buruk.

Sepak-terjangnya menghalalkan tipu muslihat, siasat jahat, praktek curang, propaganda hitam sebagai tarekat politiknya. Baginya, komitmen pada moralitas itu relatif bahkan dipandang bukan hal yang penting. Di atas segalanya, bagaimana meraih mahkota kekuasaan.

Dengan puasa kali ini semoga kita bisa meningkatkan kepekaan diri mengenai pentingnya “batas-batas nilai kewajaran” sebagai fondasi moralitas. Di tengah kebiasaan melampiaskan, dengan puasa kita dilatih untuk mengendalikan diri guna meraih titik keseimbangan, harmoni dan kearifan jalan hidup. Akhir kata, selamat menunaikan ibadah puasa karena Puasa adalah menapak jalan kearifan hidup.

Penulis: Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjajaran, Dosen Tetap Universitas Tadulako, Palu

- Advertisement -spot_img

Latest News

Pohon Tin adalah Pohon Tertua dalam Sejarah Kemanusiaan

Pohon tin adalah pohon tertua dalam sejarah kemanusiaan. Buah ini juga menjadi salah satu nama surah dalam Al-Quran dan dijadikan sumpah Allah
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img