Ingkari ‘Maut’ Hari Ini

0
537
Ingkari ‘Maut’ Hari Ini

Ingkari ‘Maut’ Hari Ini

Oleh: Ostaf al Mustafa

aksiografi.com – Media Arus Utama (‘Maut’) mematikan keterusterangan, menuju ‘keterusgelapan’ yang diselimuti data dan susunan kalimat pemberitaan yang melenakan. Masyarakat telah dikhianati pada pemberian kepercayaan terhadap ‘Maut’.  ‘Maut’ yang seharusnya meninggikan kebenaran, dan bukan memperparah omong kosong ke tingkat pengibulan. Agar suatu nilai atau pengabdian berakar pada masyarakat, maka keterusterangan harus diutamakan, dusta  harus selalu  diharamkan.[1] Pers Indonesia jatuh ke titik terendah dari gravitasi yang dipaksakan penguasa, hingga terjerembab pada penipuan bersama. Pers yang sama sekali tidak revolusioner, di era rezim yang membesarkan jargon ‘Revolusi Mental’. Kita harus menolak keras anggapan bahwa pers membela kebenaran karena sikap revolusioner. Pers hanya akan revolusioner apabila membawa kebenaran, jadi tidak sebaliknya.[2]

Advertisement
(adsbygoogle = window.adsbygoogle || []).push({});

Fake News

Untuk memastikan apakah berita yang terkoreksi termasuk kategori ‘fake news’, maka bisa dilakukan analisa yang diusulkan Nikil Mukerji dari Ludwig Maximilians Universität, Munchen dengan menggunakan dalil dalam “A conceptual analysis of fake news. Ia menggunakan empat cara dan satu kesimpulan yakni pertama berupa four test cases (empat tes kasus). Cara penilaiannya berdasarkan intuitive judgement (penilaian intuitif) yang menghasilkan jawaban atas suatu berita yakni bad journalism, biased journalism, khayalan (tak berdasar atas rumor dan prasangka), dan berita palsu.

Penilaian berdasarkan intuitif tersebut, ia dapatkan dengan menganalisa empat kasus dalam pemberitaan. Dengan melihat cara Mukerji melakukan analisa maka, kemungkinannya akan muncul level buruk jurnalisme yakni bad journalism dan biased journalisme. Pada bad journalism, media berusaha melaporkan fakta-fakta, tapi gagal menyampaikan secara keseluruhan, sehingga hanya memunculkan impresi palsu. Pada biased journalism, pembiasan media muncul karena berusaha mengarahkan pembaca untuk menerima berita, yang sumbernya hanya berasal dari satu pihak yakni pemerintah.

Cara kedua yakni menjelaskan sejumlah perbedaan dengan lima penjelasan tentang cara mengungkap keberadaan berita palsu. Metode pengungkapan tersebut dilakukan dengan melacak nilai kebenarannya, sumbernya, saluran distribusinya, cara berita itu ditampilkan, dan maksud pemberitaannya.

Cara ketiga berupa analisa berita palsu dengan berupa rumus  (FN) Fake news is BAP – bullshit asserted in the form of a publication (Berita palsu adalah omong kosong yang ditonjolkan/ditegaskan dalam publikasi). Pada BAP itulah terbagi tiga kepalsuan berita omong kosong yakni bullshit condition (kondisi omong kosong), assertion condition (kondisi penegasan) dan publication condition (kondisi publikasi). Bila omong kosong lebih banyak daripada data yang sahih, maka bisa terbentuk bullshit journalism.

Cara keempat yakni membedakan antara fake news versus bullshit journalism. Keduanya dibedakan dengan cara penonjolan omong kosong dan implikatur omong kosong.  Mukerji menyebut fake news sebagai Frankfurtian bullshit[3] yang ditonjolkan dalam bentuk publikasi. Ucapan yang lebih sopan daripada ‘bullshit’ berupa ‘humbug’, meski menurut Frankfurt, tak ada perbedaan penting dari keduanya. Max Black dalam esai “The Prevalence of Humbug”, menawarkan sejumlah sinonim dari ‘humbug’ berupa ‘balderdash’, ‘claptrap’,’hokum’, ‘drivel’, ‘buncombe’, ‘imposture’, dan ’quackery’.[4] Sinonim tersebut menunjukkan betapa banyak cara bagi para pembual dengan menggunakan berbagai media untuk menyampaikan dan menyebarkan omong kosong.

Lebih lanjut Mukerji menjelaskan tentang fake news yakni sebuah varian dari Frankfurtian bullshit, yakni omong kosong yang ditonjolkan dalam bentuk publikasi berita. Seperti halnya pembual, penerbit dari berita-berita palsu tidak peduli pada kebenaran dan berkecenderungan menutupi ketidakpedulian tersebut.[5]

Ia menjelaskan dua hal tentang Frankfurtian bullshit, yakni omong kosong memiliki dua karakter yakni pertama, “ketidakpedulian tentang bagaimana hal-hal sebenarnya” (Frankfurt 2005: 34) merupakan contoh khas seorang pembual. Kedua, pembual salah dalam mengemukakan kenyataan, “Dengan cara tertentu . . . apa sebenarnya yang ia maksudkan” (Frankfurt 2005: 54).[6]

Pada bagian pertama, ini tidak berarti bahwa apa yang dikatakan seorang pembual selamanya bohong. Ucapannya kemungkinan besar memang benar. Seorang pembual tidak seperti seorang pembohong, yang mencoba meyakinkan kita bahwa pernyataan palsu yang diberikan merupakan hal yang benar. Seorang pembual tak peduli sama sekali apakah yang ia katakan itu benar. Pada bagian kedua, mencetuskan kesamaan dalam keinvalidan. Sebagaimana pembual, demikian juga penerbit kabar bohong yang serupa dalam kesalahan, ketika menghadirkan apa sebenarnya yang dimaksudkan. Kelihatannya sama-sama ingin menyembunyikan motif sebenarnya.

Hasil pemikiran Harry Frankfurt menunjukkan perbedaan mendasar antara pembual dan pembohong. Perbedaan tersebut yakni seseorang yang mengumbar sebuah kebohongan memiliki akses terhadap kebenaran, sedangkan konsep dari omong kosong mempersyaratkan tidak adanya pengetahuan terhadap kebenaran sama sekali. Demikianlah, seorang pembohong mengetahui apa yang ia katakan bukanlah kebenaran, sedangkan pembual tidak memiliki pengetahuan yang layak untuk pernyataan yang ia buat.[7]

‘Maut’ berkemungkinan ‘tidak sengaja’, ‘tidak sadar’ atau malah ‘terlalu percaya diri’ dan melakukan ‘manipulasi konstruktif’ dan ‘rekayasa data berlebihan’ ketika menyebarkan berita yang terkoreksi terhadap informasi yang sebelumnya berasal dari sumber yang sama.

Dalam konteks yang berbeda, sebagaimana pengategorian dari Frankfurt, apakah masuk kategori ‘media pembohong’ atau ‘media pembual’? ‘Maut’ memiliki akses pada kebenaran melalui ‘fact checking’. Media yang sekedar dibuat sebagai buzzer, tentu tak memiliki persyaratan berupa kepemilikan Big Data. Mereka tak bisa menyortir dan selanjutnya memilah kelayakan informasi yang valid.

‘Maut’ lebih memilih menyebarkan atau ikut dalam rekayasa pembuatan berita omong kosong. Pilihan itu terlihat lebih baik, dibohongi karena omong kosong jauh lebih baik daripada secara langsung melumat kebohongan dalam pemberitaan. Berita omong kosong masih bisa disetir dalam jumpa pers menuju pengalihan, tapi kebohongan hanya bisa ditutupi oleh dusta yang selevel atau malah dengan perkataan culas yang lebih tinggi volumenya. Sebagaimana yang ditekankan Frankfurt, orang cenderung lebih toleran terhadap omong kosong daripada kebohongan. Itu berarti kebohongan merupakan strategi beresiko tinggi daripada keomongkosongan. Karena itulah, terdapat beberapa contoh ketika bualan dipilih sebagai strategi yang lebih baik daripada kebohongan.[8]

Persekutuan ‘Maut’ dan pemerintah dalam memberitakan ketidakbenaran, menjadi sisi lain dari kebangkitan era baru teknologi media otoriter. Fungsi teknologi media adalah menjustifikasi versi kebenaran negara (baca: penguasa) tentang berbagai persoalan yang muncul dalam kehidupan masyarakat.[9] Orde Baru menerapkan paradigma otoriterianisme dalam dunia teknologi media dan berulang pada versi yang lebih keras di era Jokowi.

Akan lebih sedikit jumlah publik yang akan mempersoalkan, jika omong kosong berbalut data dan dikukus dalam pemberitaan, daripada pernyataan tersebut langsung digoreng dalam pemberitaan bohong. Apalagi bila memang materi tersebut hanya kebohongan yang disembunyikan dalam permainan diksi, kelancungan statistik, dan penataan kalimat.

Ketika “Maut’ menjadi anasir  pembohong atau pengomongan kosong, batas-batas antara keduanya mencair, saling melarutkan, dan dan dua peran itu dimainkan seperti dua sisi watak Joker. Seorang pembohong selalu bertujuan menyembunyikan atau menghindari sesuatu. Seorang pembual hanya memilih omong kosong sebagai alternatif pilihan dari kebohongan, karena hal tersebut menghindarinya dari kemungkinan pembeberan dan tuduhan sebagai pembohong.

Itulah mengapa hingga omong kosong masih diucapkan oleh seseorang yang terkondisikan sebagai pembohong.[10] Media yang menyiarkan berita bohong, dalam kondisi lain juga akan menyebarkan kabar yang omong kosong, tergantung bagaimana merekayasa data ke tingkat manipulatif halus. Dalam kasus ‘Maut’, maka berita bohong dan omong kosong selalu menyatu, tergantung berapa lama seseorang atau publik yang kritis menemukan adanya ‘berita terkoreksi’. 

Istilah yang cukup tepat untuk ‘berita terkoreksi’ yakni ‘deceptive misrepresentation’, merupakan pleonastik (menggunakan dua kata atau lebih untuk menyampaikan satu makna) terhadap humbug. Black memperkirakan bahwa humbug tidak secara kebetulan didisain atau memang dimaksudkan untuk memperdayai, menipu, mengelabui, dan mengibuli sehingga misrepresentasi tersebut bukan semata-mata sebagai tindakan yang tak disengaja. Dengan kata lain memang terencana atau diniatkan untuk dibuat agar terjadi misrepresentasi.[11]

Omong Kosong

Pemberitaan tentang swasembada dan penurunan angka kemiskinan di era Jokowi, bisa jadi hanya bentuk eufimisme dan political spin, yang dipilih karena jauh lebih baik daripada langsung berbohong. Mengatakan petani secara umum sudah mencapai titik sejahtera, adil, dan makmur, tentu saja itu merupakan kebohongan. Itulah sebabnya jauh lebih baik bermain di zona aman dengan memilih eufisme dalam diksi ‘swasembada’.

Juga bila menyampaikan bahwa seluruh masyarakat semakin terpenuhi kebutuhan dasar dalam urusan sandang, pangan, dan papan, maka sudah pasti ucapan demikian termasuk kelancungan. Maka pemilihan kata politis, harus menggunakan political spin, dengan memutar fakta ke pilihan kalimat yang lain berupa ‘penurunan angka kemiskinan’.

Seorang yang eufimis atau spin doctor, masih cukup dekat dengan prilaku sebagai pembohong, dengan demikian sejauh ini mereka selalu menutupi sesuatu. Dengan memilih omong kosong daripada kebohongan, seorang eufimis dan spin doctor hanyalah seorang relativis yang melakukan langkah strategis dalam pendekatannya pada kebenaran atau tanggung jawab. Bentuk omong kosong ini tidak dicirikan oleh ketidakpedulian terhadap kebenaran, tapi menghindari berurusan dengan kebenaran yang tak nyaman, sehingga dilakukan upaya untuk menyembunyikannya.[1] Istilah yang sejenis dengan spin doctor yakni spin master, meski berbeda dalam sebutan, tapi keduanya serupa dalam mengubah kebohongan dan omong kosong menjadi post-truth, sesuatu yang akan dipercaya publik.

Dalam hal pencarian berita yang benar, tak bisa lagi mengandalkan Maut atau media berbayar, karena sekarang sudah berada di era post-media dan post-journalism. Siapapun harus mencari sendiri kebenaran itu, memverifikasinya dengan membandingkan dengan dengan berita yang sejenis. Kemudian bila masih ragu, terjejali syak wasangka, dan tertimbun oleh keraguan, maka cara terbijak dalam kondisi seperti itu yakni berhenti untuk percaya.

Kebohongan dan omong kosong berada dalam kelas yang sama yakni ketidakjujuran. Pada kelas yang sejenis terdapat juga penipuan, kelancungan, atau kecurangan. Dalam pepatah Melayu, kelancungan merupakan bentuk kebohongan tingkat tinggi. Tak ada peluang untuk kesempatan kedua, setelah perbuatan lancung tersebut dilakukan, pertama kali. “Sekali lancung di ujian, seumur hidup tak akan dipercaya”.

Makna dasar tentang penipuan yakni menyediakan informasi benar pada pendengar, hingga kemudian pendengar tersebut kemungkinan besar menggunakannya untuk membuat kesimpulan salah.[13] Berita yang terkoreksi bisa juga merupakan satu motif penipuan terhadap publik, sebab berita tersebut diformulasikan seakan-akan benar terjadi demikian.

Bagi yang abai dengan kesadaran dan suka dengan kabar yang ‘baik-baik saja’, maka pasti mudah sekali menerima penipuan yang dimanipulasi dengan alur berita yang menawan. Penipuan, secara mendasar dapat berfungsi dengan menyediakan beberapa bagian informasi dan menahan informasi lainnya agar bisa mengarahkan korban ke konklusi yang salah.[14]

Korban dari berita terkoreksi, pastilah petani dan warga pedesaan karena mengira telah terjadi swasembada, padahal faktanya panen raya telah gagal menghasilkan pendapatan yang cukup untuk menghidupi keluarga kecil. Mereka juga menjadi korban salah data, karena penurunan angka kemiskinan yang dinyatakan berhasil, tidak menggerakkan kekuatan ekonomi sama sekali.

Mukerji menegaskan ada dua jenis fake news yakni berita bualan dan berita yang sepenuhnya bohong.[15] Omong kosong merupakan musuh yang lebih lebih besar terhadap kebenaran daripada kebohongan itu sendiri, demikian kunci dari Frankfurt. Dalam rezim yang serba omong kosong plus karakter planga-plongo, siapa yang  bisa menyangka bila hoaks dan kebohongan akhirnya menjadi sesuatu yang biasa-biasa saja. Terlalu sering klaim kebohongan diumbar, lama kelamaan menjadi satu atau beberapa produk kebenaran. Kedustaan tak sepenuhnya tertolak, apalagi dukungan sepihak dari para pembeo yang menerima reproduksi kebohongan sebagai dalih yang diterima tanpa syarat. Hoaks diterima oleh kalangan goblok, disebar oleh faksi dungu, lalu dipercaya oleh sekolam majelis tolol.

Contoh omong kosong yang paling besar dalam ruang waktu yang sempit yakni Pilpres 2019, sehingga Roy Thaniago mempertanyakan “Di tengah kontes politik omong kosong seperti ini, landasan apa yang memungkinkan orang menjatuhkan pilihan politiknya secara rasional?” Roy melakukan riset yang kemudian dipublikasikan dengan judul “Peran Media Dalam Politik Omong Kosong: Studi Atas Headline Lima Surat Kabar”.[16]

Rasional dan akal sehat menjadi semakin lemah, ciut, menyempit, bahkan ditiadakan. Hingga seorang terdidik sebagai dosen UI, menjadi bagian dari omong kosong tersebut. Ia yang menjadi bintang iklan sebuah produk obat herbal disebut atau menyebut diri sebagai ‘orang pintar’, akhirnya menjadi masuk angin. Ia merubuhkan integritas keintelektualannya, karena tak mampu menolak angin yang berhembus dari omong kosong yang diucapkannya sendiri. Kedatanganya di IPB, bahkan ditolak oleh mahasiswa.

Harkatnya keilmiahan sang ‘orang pintar’ tumbang dan tertolak angin, gegara berada di kalangan pembesar omong kosong. Hoaks dan disinformasi semakin digalakkan, dalam artian setiap orang menjadi galak terhadap orang lain dalam membuat dan menyebar omong kosong.

Hal ini juga terkonfirmasi dari pengakuan tim kampanye Jokowi yang mengatakan bahwa mereka sengaja melakukan “kampanye sampah” untuk menandingi kampanye sampah yang dibuat kubu Prabowo: “when they go low, we go lower.” Penyebutan “kampanye sampah” untuk menggantikan istilah “kampanye hitam”, yang dianggap bernuansa rasial oleh Roy.

Kemiskinan di Pedesaan

Fakta yang bisa terperiksa dalam hal isu penurunan kemiskinan di era Jokowi bisa dilacak di awal masa kekuasaannya. Ini yang kemudian tetap dibesarkan oleh rezim tersebut pada tahun-tahun berikutnya. Dampak distribusi dari iklim ekonomi makro saat ini, cenderung paling sulit dirasakan oleh orang miskin. Indonesia sangat terkenal dalam usaha pengurangan kemiskinan, seperti di era SBY. Namun, di era Jokowi, antara September 2014 dan Maret 2015.

Bagian populasi yang mengalami kemiskinan meningkat, meskipun pertumbuhan ekonomi ditutup pada kisaran 5.0%. Pertumbuhan lambat, harga bahan pangan meningkat, penghasilan petani menurun dan keterlambatan  pembayaran kompensasi penaikan harga bahan bakar, akhirnya berdampak pada semuanya.[17]

Kemiskinan terbanyak di pedesaan, mendekati dua kali lipat daripada kasus serupa di perkotaan. Dua puluh sembilan juta orang Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan yang ditetapkan pemerintah. Ini mencakup 8,3% penduduk kota dan 14,2% penduduk desa.[18] Prioritas terbesar upaya pengentasan kemiskinan di desa dan mereka yang disebut sebagai ‘orang kampung’, tapi inilah paradoks itu. Pedesaan, sebagai area sumber daya alam, justru menjadi kutukan.

Pada sumber daya yang besar dalam bidang kehutanan dan pertambangan, justru warga pedesaan yang terdepan mengalami kemelaratan, bahkan diintimidasi, juga dibunuh untuk diambil paksa tanah-tanah adat mereka. Lebih mengerikan daripada yang dilangsir BPS di atas, yakni 68 juta atau 26,9% warga Indonesia terancam miskin. Mereka hidup kurang dari 50% di atas garis kemiskinan nasional (PPP US$ 1,30). Jika mereka mengalami masalah ekonomi, mereka jatuh miskin dengan mudah.[19]

Kondisi Indonesia kadang bisa mengjungkirbalikkan akal sehat dan menghempaskan nalar. Satu peristiwa ekonomi yang seharusnya terlihat baik, ternyata secara realitas terjadi sebaliknya. Bingung atau kebingungan merupakan kata sifat untuk menyederhanan respon yang muncul akibat pengkoprolan  daya pikir dan pembantingan logika.

Inilah bentuk pemutarbalikkan rasio itu yakni, “Insiden kemiskinan meningkat di antara warga pedesaan daripada warga perkotaan, meskipun harga hasil pertanian meningkat, yang berarti pendapatan meningkat bagi banyak orang miskin pedesaan. Keuntungan yang didapatkan petani miskin justru berkurang, yang ditimbulkan oleh sejumlah besar warga miskin pedesaan yang murni sebagai pembeli bahan pangan, dan kenyataannya bahwa pangan mewakili pembagian yang lebih besar dari keseluruhan anggaran (bahkan lebih besar daripada rata-rata warga miskin pedesaan).”[20] Dalam urusan mempercayai atau tidak sama sekali, apakah yang harus dikatakan kepada sang ‘Maut’? Jawabannya, “Tidak hari ini!”[21]

*Jebolan Unit Kegiatan Pers Mahasiswa Unhas (UKPM)


[1] Albert Camus, Krisis  kebebasan, Edhi  Martono (penerjemah), Yayasan Pustaka Obor Indonesia, Jakarta, ISBN 978-979 -461-863-9, 2013, h. 100.

[2] Albert  Camus, Ibid., h. 36.

[3] Mukerji memberikan penamaan demikian berdasarkan tulisan Harry Frankfurt tentang omong kosong, lihat : Harry Frankfurt, On Bullshit, Princeton University Press, Princeton, 2005.

[4] Harry Frankfurt, On Bullshit, Princeton University Press, Princeton, 2005, tanpa nomor halaman.

[5] Nikil Mukerji, “What is Fake News?”, Ergo, An Open Access of Philosophy, vol. 5, no. 35, 2018, h. 923.

[6] Nikil Mukerji, Ibid., h. 923.

[7] Martin Caminada, “Truth, Lies and Bullshit, distinguishing classes of dishonesty”, University of Luxembourg, h. 1.

[8] Heinz Brandenburg, “Short of Lying, The prevalence of bullshit in political communication”, European Consortium for Political Research (ECPR) Joint Sessions of Workshops, Nicosia, 25-30 April 2006, h.7.

[9] Muhammad Mufid, Etika dan Filsafat Ilmu Komunikasi, Prenada Media Grup, Jakarta, 2015, h. 126.

[10] Heinz Brandenburg, Loc cit.

[11] Harry Frankfurt, Loc cit.

[12] Heinz Brandenburg, Op cit., h. 8-9.

[13] Martin Caminada, Op. cit., h.3

[14] Martin Caminada, Op. cit., h.3

[15] Nikil Mukerji, Op. cit., h. 925.

[16] Roy Thaniago, “Peran Media Dalam Politik Omong Kosong: Studi Atas Headline Lima Surat Kabar”, 14 April 2018, diakses 27 April 2019, 05:32 WIB.

[17]  Arief Anshory Yusuf dan Andy Sumner, “Growth, Poverty, and Inequality under Jokowi”,  Bulletin of Indonesian Economic Studies, ISSN: 0007-4918 (Print) 1472-7234 (Online), 2015, h. 323.

[18] Badan Pusat Statistik (Susenas) 2015 dalam: Prabowo Subianto, Paradoks Indonesia, Pandangan Strategis Prabowo Subianto, Koperasi Garudayaksa Nusantara, Pebruari 2017, h. 7.

[19] Bank Dunia 2015 dalam: Prabowo Subianto, Ibid., h. 8.

[20] Arief Anshory Yusuf, Op. cit., h. 342.

[21] Diadaptasi dari kalimat Syrio Forel, seorang bravo dan master pertarungan pedang dengan keahlian khusus yang disebut ‘Water Dance’. Ia disewa Eddark Stark  untuk melatih Arya Stark, pemilik pedang kecil yang disebut Needle. Ia dilatih secara rahasia cara menggunakan senjata tajam untuk kepentingan bela diri dalam  First Sword of Braavoos, Game of Thrones. Forel berkata, “There is only one God, and His Name is Death, and there is only one thing we say to Death: ‘not today’. Hal itu diulang kembali oleh Melisandre, ketika bertanya, “What should say to the God of Death?” Arya menjawab, “Not Today!” (Battle of Winterfell,). Ucapan yang memperkuat dirinya sehingga akhirnya bisa membunuh Night King. lsdpr