Virus CCHF Menyebar di Seluruh Eropa, Ancaman Global yang Mendesak

Date:

Virus CCHF yang mematikan saat ini menyebar di seluruh Eropa. Ini akan menjadi ancaman global yang mendesak. Penyebaran sudah berada di Spanyol, Namibia, Irak dan terdapat beberapa kasus kematian seperti di Pakistan.

aksiografi.com – Sebuah virus mematikan yang dikenal sebagai Crimean-Congo hemorrhagic fever (CCHF) sedang menyebar dengan cepat di seluruh Eropa, Afrika, dan Timur Tengah. Virus ini menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia dan telah masuk dalam daftar patogen prioritas Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berpotensi menyebabkan wabah dan pandemi yang meluas.

Menurut laporan dari Forbes, CCHF adalah penyakit demam yang disebabkan oleh virus yang dapat berakibat fatal. Virus ini telah menyebar di beberapa negara seperti Irak, Namibia, Spanyol, dan terdapat kasus kematian tercatat di Pakistan.

Bagaimana CCHF menyebar?

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menjelaskan bahwa CCHF disebabkan oleh virus Nairovirus yang ditularkan melalui gigitan kutu. Sebenarnya CCHF ini sudah lama diteliti oleh WHO dengan membuatkan peta jalan penelitian CCHF. Virus ini dapat menular kepada manusia melalui gigitan kutu atau melalui kontak dengan darah atau jaringan hewan yang terinfeksi, misalnya saat melakukan pemotongan hewan. Kutu ini juga mampu menggigit dan menularkan virus ke berbagai jenis hewan, termasuk sapi, kambing, domba, dan kelinci.

WHO juga mencatat bahwa sebagian besar kasus CCHF terjadi pada individu yang terlibat dalam industri peternakan, seperti pekerja pertanian, petugas pemotongan hewan, dan dokter hewan. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi melalui kontak dekat dengan darah, sekresi, organ, atau cairan tubuh lainnya dari individu yang terinfeksi.

Dampak dan Tindakan Pengendalian

CCHF memiliki tingkat kematian antara 10 hingga 40 persen. Dikhawatirkan bahwa penyakit ini akan terus meluas dan menyebar ke negara-negara lain seperti Inggris dan Prancis akibat perubahan iklim. Saat ini, belum ada vaksin yang tersedia untuk mencegah CCHF pada manusia atau hewan. Meskipun begitu, obat antivirus ribavirin telah digunakan dalam pengobatan pasien, namun efektivitasnya masih dalam penelitian lebih lanjut.

Gejala CCHF dapat muncul secara tiba-tiba dan ditandai dengan sakit kepala, demam tinggi, nyeri punggung, nyeri sendi, nyeri perut, dan muntah. Beberapa gejala lain yang umum meliputi mata merah, wajah memerah, tenggorokan merah, dan bintik-bintik merah di langit-langit mulut. Pada kasus yang parah, gejala dapat meliputi penyakit kuning, perubahan suasana hati, dan perubahan persepsi sensorik.

Dalam kasus yang lebih parah, pasien dapat mengalami memar yang parah, mimisan berlebihan, dan pendarahan yang tidak terkendali di tempat suntikan. Gejala ini biasanya muncul sekitar hari keempat penyakit dan berlangsung selama dua minggu. Tingkat kematian pasien yang dirawat di rumah sakit dalam wabah CCHF yang terdokumentasi berkisar antara 9 hingga 50 persen.

Pemerintah dan organisasi kesehatan di seluruh dunia sedang mengambil tindakan pencegahan dan pengendalian untuk mengatasi penyebaran CCHF. Kecepatan dalam melakukan pemantauan, deteksi dini, serta upaya edukasi dan kesadaran masyarakat menjadi kunci dalam menangani ancaman serius ini.

Perlu diingat bahwa informasi ini adalah untuk kepentingan informasi publik dan penting bagi masyarakat untuk tetap waspada, mengikuti protokol kesehatan yang ditetapkan, serta mendapatkan informasi terkini dari sumber-sumber resmi seperti organisasi kesehatan setempat dan WHO.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Subscribe

Popular

More like this
Related

24 Mei 1844: Samuel Morse Mencetak Sejarah dengan Uji Coba Sukses Telegraf Listrik

Pada 24 Mei 1844 Samuel Morse berhasil melakukan uji...

Hari Buku Sedunia: Merayakan Kekuatan Sastra dan Pencinta Buku di Seluruh Dunia

Hari Buku Sedunia berawal di Catalonia hingga UNESCO mengadopsinya....

Perjanjian Santa Fe: Awal dari Sebuah Zaman Baru

Perjanjian Santa Fe adalah perjanjian yang mengubah perjalanan sejarah...

Pembantaian Amritsar: Ketika Inggris Memicu Ledakan Kemarahan di India

Pembantaian Amritsar pada 13 April 1919 menjadi titik balik...