Jans Membumikan Jamu Nusantara

Must Read

Jans membumikan Jamu Nusantara dengan melakukan penelitian dan praktik pengobatan herbal. Ia hanya dikenang sebagai orang asing pertama yang memperkenalkan jamu Indonesia ke dunia Barat melalui karya-karyanya.

aksiografi.com – Kloppenburg Versteegh bernama lengkap Johanna Maria Carolina Versteegh. Ia lahir di Soekamangli pada 16 Mei 1862. Anak dari Carolus Bartholomeus Versteegh (1826-1895), administrator perkebunan dan Albertina Margaretha van Spreeuwenburg (1828-1913). Ayahnya seorang pengusaha sukses yang dikenal sebagai “raja kopi Jawa”. 

Dia menghabiskan masa kecilnya di sebuah perkebunan kopi dekat Semarang di Jawa Tengah. Saat masih berusia enam tahun, orang tuanya mengirimnya ke sekolah asrama di Batavia, sekolah Suster Ursulin, sekolah ternama dan berstandar tinggi pada masa itu.

Namun, beberapa tahun kemudian, panen kopi gagal. Orang tuanya kekurangan uang untuk membiaya sekolah Jans, panggilan Johanna Maria Carolina Versteegh. Ia pun dipanggil pulang oleh orang tuanya karena tak mampu lagi membiayai sekolahnya.

Jans membantu ibunya, Albertina van Spreeuwenburg. Jans ditugaskan menjaga perawatan kesehatan para pekerja perkebunan. Selama masa itu, Kloppenburg belajar tentang berbagai perawatan penyembuhan alternatif yang digunakan oleh ibunya yang masa itu dikenal dengan ramuan jamu tradisional.

Setelah melihat banyak manfaat menggunakan obat herbal asli, Kloppenburg bersemangat melanjutkan studinya tentang hal ini. Pada tahun-tahun berikutnya, pengetahuan Kloppenburg yang luas tentang tanaman obat dan herbal tidak luput dari perhatian penduduk asli. Orang-orang segera menganggap Kloppenburg sebagai ahli luar biasa dalam bidang pengobatan tradisional Indonesia.

Saat berusia 20 tahun, Jans Versteegh menikah dengan Hermanus (Herman) Pertus Kloppenburg (1855-1928) pada 17 Pebruari 1883. Herman meniti karir di Pertanian perkebunan tropis. Pasangan itu dikarunia sebelas anak: enam putri dan lima putra.[1]

Mereka tinggal di Padang, di pantai barat Sumatera antara 1887 hingga 1891. Ia memperluas dan memperdalam pengetahuan herbanya; di antara orang-orang alami.

Pada 1889, anak tertuanya, Tina, meninggal. Kematian mendadak putri sulungnya membuat Jans Versteegh sangat terpukul ketika dia mengetahui, bahwa dokter(Barat) yang merawat putrinya, telah gagal untuk mendiagnosis penyakit putrinya. Akibatnya, dokter meresepkan obat-obatan Barat yang ternyata memiliki konsekuensi ‘bencana’.

Sejak saat itu, Jans Kloppenburg Versteegh mengutuk penggunaan obat-obatan Barat. Kehilangan putri sulungnya mendorong Jans untuk memperluas pengetahuan praktisnya tentang pengobatan tradisional Indonesia dan menyusun sistematis secara intensif. Pembelajaran mandiri itu akhirnya mengarah pada publikasi akademis pertamanya: Indische planten en haar geneeskracht (Tanaman India dan kekuatan penyembuhannya) (1907). Buku diterima dengan antusias oleh masyarakat, dan menjadi buku terlaris di masa itu dan terus dicetak awal abad ke dua puluh.

Pada 1911 menyusun Atlas van Indische geneeskrachtige planten bij Raadgevingen betreffende het gebruik van Indische planten, vruchten enz (Atlas Tanaman Obat HIndia tentang Petunjuk dan Saran Penggunaan Tanaman India, Buah-Buahan).

Kemudian dia menerbitkan  Het leven van de Europeesche vrouw in Indië (Kehidupan Wanita Eropa di Hindia) (1913), di mana dia memberi sejumlah aturan hidup yang ditulis dalam otobiografi kepada wanita. Dalam Eene teretrachting (1940) menyebut Jans Kloppenburg sangat berjasa melalui buku herbalnya.

Kedua karya Jans Kloppenburg menjadi sumber informasi bagi siapa pun yang menginginkan obat-obatan alami untuk pengobatan dan menjadi stamina mereka. Bukunya mendapat antusias masyarakat luas. Banyak yang memberikan respon yang mencari solusi untuk penyakit dan gangguan tertentu pada tubuh. Respon itu juga Jans menuliskannya dalam sebuah buku dengan judul Komentar tentang ‘Petunjuk dan Saran’ saya mengenai penggunaan tanaman India, buah-buahan dll. (Surabaya 1940).

Pertarungan Pengobatan Modern dan Herbal Pribumi

Memasuki abad ke dua puluh, pengobatan berbasis ilmiah Barat meningkat dengan pesat. Pengembangan industri farmasi terus berkembang dan menggantikan pemanfaatan sumber daya alam. Memang, efek obat-obatan modern berhasil cepat dan efektif. Sikap unggul Barat terhadap pengetahuan lokas masyarakat adat di koloni-koloni memperkuat pergeseran obat herbal dalam penggunaannya. Obat-obatan non-ilmiah, masa itu, selalu dikaitkan dengan pengetahuan perdukunan atau pesudo-medis.

Dokter-dokter Barat tidak begitu menyukai metode penyembuhan pribumi. Namun bagi Jans dalam membumikan jamu nusantara dan sejumlah tabib yang mempraktekkan tanaman herbal sangat berfungsi di tempat-tempat pedalaman di mana tidak ada fasilitas medis Barat. Buku-buku Kloppenburg tentang tanaman obat asli dan herbal sukses dan laris manis sebagai pedoman dan dicetak ulang. Bagi sejarawan Hesslink menilai sikat dokter Barat masa itu melihatnya sebagai ketakutan kehilangan pengaruh mereka. Ia menyatakan bahwa ada motif rasis: penyembuh awam adalah orang Indo-Eropa, bukan orang Eropa (putih).[2]

Jans Kloppenburg Versteegh
Jans Kloppenburg Versteegh berfoto di halaman belakang rumahnya di Bodjongweg, Semarang. Foto: KITLV | Sumber.

Popularitas Jans Kloppenburg-Versteegh semakin naik meski mendapat kritik dari dokter Barat. Tahun 1905, ia terpilih menjadi Presiden Asosiasi Perawat St. Elisabeth  di kota Kelahirannya, Semarang. Ia juga ikut dalam gerakan kesadaran etika saat itu untuk membentuk kebijakan pemerintah Kerajaan Belanda yang kemudia disebut kebijakan etis.

Perhatian serius harus diberikan pada masyarakat terkait pada peningkatan standar hidup, kesehatan, pendidikan masyarakat adat. Lingkungan alami adalah sumber tanaman obat dan herbal. Kesehatan banyak orang dapat ditingkatkan dengan biaya minimal dengan cara meningkatkan dan menerapkan pengetahuan.[3]

Pada 1914 Herman Kloppenburg pensiun dini. Ia memilih kembali ke Belanda. Namun bagi Jans dan anak-anaknya pulang ke tanah air yang tidak mereka kenal. DI Belanda mereka tinggal di Deventer lalu di Nijmegen. Pada 1922, mereka pindah ke Tervuren di Belgia.[4]  

Empat belas tahun tinggal bersama di Eropa, Jans Kloopenburg-Versteegh ditinggal janda pada tahun 1928. Ia merindukan negara kelahirannya di mana ia merasa seperti di rumah. Pada 1937 ia kembali ke Hindia Belanda namun ketegangan internasional: politik agresif Jerman dan Jepang. Jepang menduduki Cina pada 1830 dan secara bertahap datang ke Indo-Cina Perancis dan Hindia Belanda.

Masa-masa itu, seorang putra dan putinya meninggal dan menjadi pukulan baginya. Pada 1942, Jepang menduduki Hindia Belanda setelah menduduki Cina. Keluarga Kloppenburg tetap berada di luar kamp interniran karena Jepang tetap menganggapnya sebagai orang Asia. Selama periode ini, kesehatan Kloppenburg memburuk dengan cepat, namun tidak ada obat yang tersedia untuk penyakitnya

Setelah Perang Dunia II, kehidupan orang Indo-Eropa lebih buruk karena tidak diizinkan pemidahan kewarganegaraan. Kloppenburg menghabiskan bulan-bulan terakhirnya di rumah sakit Barat di Malang, Jawa Timur, tempat ia akhirnya meninggal pada tahun 1948.

Sumbangsihnya dalam penyebaran pengetahuan tentang flora alami dengan sifat-sifat obat sebagai warisan leluhur nusantara sangat tinggi namun namanya tidak dapat ditemukan dalam sejarah ‘tanah air’ bahkan nama jalan di mana ia tinggal atau mengahiri hidupnya tak ada.

Namun di negara orang tuanya, Belanda, ia diabadikan menjadi salah satu nama jalan di Nijmehen pada 2016 meskipun ia hanya tinggal selama setahun di sana.  

Jalan Jans Kloppernburg Versteegh di Nijmegen, Batavia Baru
Nama jalan Jans Kloppenburg Versteegh di sebuah Distrik Nijmegen Baru di Batavia. Sebelah kiri Laan van Oost-Indië dan deretan rumah di sebelah kanan terletak di Jans Kloppenburgstraat. Sekitar sudut paralel dengan Waal adalah Jan Nieraethstraat, seorang Indonesia dari Nijmegen yang menyelenggarakan Pasar Malam budaya di kota selama bertahun-tahun. Foto: Humphrey de la Croix, Juli 2019. | Sumber.

Jans Kloppenburg hanya dikenang sebagai orang asing pertama yang memperkenalkan jamu Indonesia ke dunia Barat, dan yang karyanya telah meninggalkan kita dengan harta pengetahuan yang tak ternilai untuk dilestarikan bagi generasi mendatang.

Pekerjaan Kloppenburg menjadi sumber informasi yang sangat berharga bagi mahasiswa kedokteran di Hindia Belanda masa itu. Sekarang, lebih dari seabad kemudian, pengetahuan dan keahlian Kloppenburg yang terperinci dalam bidang pengobatan tradisional masih relevan dengan studi tentang tanaman obat dan tumbuhan di Indonesia saat ini. Itulah kisah perjalanan Jans membumikan jamu nusantara.


[1]  http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Kloppenburg

[2]  Hesselink (2009), hlm. 263-264 dan Has Pols (2009), hlm. 195-197.

[3]  Hans Pols (209), hlm. 191-199.

[4]  http://resources.huygens.knaw.nl/vrouwenlexicon/lemmata/data/Kloppenburg

- Advertisement -spot_img

Latest News

Manfaat Antioksidan bagi Kesehatan Tubuh

Manfaat antioksidan bagi kesehatan tubuh adalah untuk melindungi sel-sel dari kerusakan akibat radikal bebas. Sumber makanan yang mengandung antioksidan beragam seperti buah-buahan dan sayur-sayuran.
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img