Rabu, Juni 16, 2021

Jamu adalah Warisan Leluhur Indonesia

Must Read

Jamu adalah warisan leluhur Indonesia. Istilah jamu dapat ditelusuri dalam manuskrip kuno masyarakat Indonesia dan berbagai relief candi yang menggambarkan tentang jamu.

aksiografi.com – Jamu merupakan sebutan tradisional orang Indonesia untuk obat herbal. Jamu berasal dari bahasa Jawa Kuno yaitu djampi yang berarti penyembuhan atau doa dan oesodo yang berarti kesehatan. Dua kata ini silih berganti penggunaannya di beberapa tempat atau beberapa masa yang berbeda. Jampi  kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia. Istilah itu dapat ditelusuri dalam manuskrip Serat Primbon Jampi Jawi.  

Ramuan jamu terbuat dari bahan-bahan alami seperti rimpang (akar-akaran), daun-daunan, kulit batang, dan biji. Ada lima jenis tanaman unggul sebagai bahan jamu yaitu pegagan (centella asiatica), temulawak (curcuma zanthorrizha roxb), sambiloto (andrographis paniculata), kencur (kaempferia galangal), dan jaeh (zingiber officinale).

Ramuan jamu merupakan warisan leluhur nusantara. Terdapat berbagai bukti arkeologis, artefak, relief, kesusastraan, dan tradisi lisan yang berbicara tentang kesehatan, penyembuhan, dan kecantikan dari berbagai kebudayaan di Indonesia.

Beberapa fosil berupa lumpung, alu, dan pipisan terbuat dari batu ditemukan di pulau Jawa menunjukkan bahwa penggunaan ramuan untuk kesehatan dan pengobatan telah dimulai sejak zaman neolotikum.

Berbagai relief yang menggambarkan tentang jamu di beberapa candi seperti Candi Borobudur, Candi Prambanan, Candi Penataran, dan Candi Tegalwangi menjadi bukti kuat bahwa jamu adalah warisan leluhur nusantara.

Pada Candi Borobudur terdapat relief-relief yang menggambarkan pohon kalpataru sebagai lambang kehidupan. Di dekat pohon kalpataru ditampilkan adegan orang-orang sedang meramu, menumbuk, memilis dalam mempersiapkan ramuan jamu. Di panel 19 Relief Karmawibangga menggambarkan orang sedang menumbuk dengan alat dari batu. Gambar itu juga bercerita tentang ungkapan syukur atas kesembuhan seseorang dari penyakit yang dideritanya. Terdapat juga relief yang menggambarkan seorang perempuan memegang batu giling atau pipisan dengan di atasnya berupa relief rumah panggung.

Ramuan itu juga biasa ditambahkan kuning telur ayam sebagai tambahan untuk jamu gendong. Selain ramuan dari bahan tumbuh-tumbuhan, ada juga yang mengggunakan bahan dari tubuh hewan, seperti empedu kamping, empedu ular, tangkur buaya, hati kelelawar,  dan lain-lain. Sebagai pemanis untuk mengimbangi rasa pahit, jamu ditambahkan madu atau anggur untuk mengurangi rasa pahit. 

Jamu adalah warisan leluhur bangsa yang telah dimanfaatkan secara turun temurun dalam pengobatan dan pemeliharaan kesehatan melalui tradisi lisan. Seiring perkembangan zaman, pengetahuan yang diwariskan melalui trafisi lisan kemudian dituliskan. Artefak seperti cobel atau ulekan sebagai alat tumbuk meramu jamu.

Pada 1907, Kloppenburg-Versteegh seorang wanita keturunan Belanda yang lahir di Hinda Belanda (Indonesia saat ini) menulis buku ‘Indische Planten en Haar Geneeskracht’ (Tanaman Alami Nusantara dan Properti Penyembuhannya).  Ia telah mempelajari warisan leluhur itu di Jawa dan melakukan perjalanan ke Sumatera untuk memperluas dan memperdalam pengetahuan herba; di antara orang-orang alami.  

Selain itu, jamu juga telah menarik salah satu peneliti asal Eropa yang kemudian menulis sebuah komposisi yang mengulas tentang minuman tradisional asal pribumi ini yang bernama Jacobus Bontius.

Pada 2010 Riskesdas menunjukkan bahwa 48,53 persen penduduk Indonesua menggunakan jamu untuk kesehatan maupun pengobatan. Sekitar 55.3 persen konsumsi jamu dalam bentuk cairan dan 44,7 persen mengonsumsi jamu dalam bentuk serbuk, rajangan, dan kapsul atau tablet.[1]

Seiring perkembangannya ilmu kedokteran modern, pemanfaatan jamu tradisional mengalami pasang surut untuk mendapatkan pengakuan pemerintah dalam bentuk kebijakan.  

Pada 2014 sejumlah jamu yang berkhasiat untuk kesehatan telah didaftarkan hak patennya di Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual.

Delapan paten yang diajukan adalah komposisi formula jamu untuk obesitas, jemu untuk meningkatkan daya tahan tubuh, hepatoprotektor atau pelindung hari, anemia defisiensi besi, batu saluran kemih, hemoroid derajat I, II, dan III, osteoarthritis sendi lututm dan jamu sebagai pelancar ASI (Air Susu Ibu).

Jamu yang sudah terdaftar adalah buah Krangean (Litsea cubeba) untuk affodisiaka (2010), komposisi herbal penurun tekanan darah untuk hipertensi ringan (didaftarkan pada 2013), dan komposisi herbal untuk hiperurisemia (didaftarkan pada tahun 2013).

Meskipun begitu, jamu belum mendapat pengakuan semua dokter di Indonesia karena dianggap belum memiliki bukti ilmiah (evidence based medicine/EBM). Hal tersebut diperjelas dengan hilangnya bidang kajian pengobatan tradisional, alternatif dan komplementer pada kepengurusan Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) pasca-Muktamar IDI di Makasar tahun 2012.

Bidang kajian tersebut diperjuangkan PB IDI hasil muktamar di Palembang tahun 2009, setelah Bapak Presiden RI mencanangkan jamu brand Indonesia pada tahun 2008. Pada kenyataannya, di setiap sidang pleno PB IDI selama tiga tahun, banyak anggota pengurus yang selalu mempertanyakan bukti ilmiah jamu karena banyak pasien mereka mengalami perforasi lambung bahkan gagal ginjal.

Baca Juga:   Cengkih adalah Tanaman Asli Indonesia
Baca Juga:   Bawang Putih Menangkal Pilek dan Batuk

Penjelasan bahwa jamu tersebut bercampur dengan Bahan Kimia Obat (BKO) sebagai penyebab efek samping, tidak menyurutkan pendapat mereka bahwa jamu tidak aman dan tidak berbasis ilmiah (Purwaningsih 2013). Pendapat dokter yang melemahkan kemanfaatan jamu tersebut mendorong, Kementerian Kesehatan melalui Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menjalankan program saintifikasi jamu (SJ) berdasarkan Peraturan Kementerian Kesehatan RI No.003/PerMenKes/I/2010 untuk membuktikan khasiat jamu dengan metode penelitian berbasis pelayanan.

Keberadaan jamu tidak bisa dilepaskan dengan sejarah peradaban di Indonesia. Hal ini dapat diketahui sebelum Abad ke 18, dengan ditemukannya fosil di tanah Jawa berupa lumpang, alu dan pipisan yang terbuat dari batu menunjukkan, bahwa penggunaan ramuan untuk kesehatan telah dimulai sejak zaman mesoneolitikum. Penggunaan ramuan untuk pengobatan tercantum di prasasti sejak abad 5 M antara lain relief di Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Candi Penataran abad 8-9 M. Usada Bali merupakan uraian penggunaan jamu yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno, Sansekerta dan Bahasa Bali di daun lontar pada tahun 991-1016 M. Istilah djamoe dimulai sejak abad 15-16 M yang tersurat dalam primbon di Kartasuro. Uraian jamu secara lengkap terdapat di Serat Centini yang ditulis oleh Kanjeng Gusti Adipati Anom Mangkunegoro III tahun 1810-1823. Pada tahun 1850 R. Atmasupana II menulis sekitar 1734 ramuan jamu.

Djamoe merupakan singkatan dari djampi yang berarti doa atau obat dan oesodo (husada) yang berarti kesehatan. Dengan kata lain djamoe berarti doa atau obat untuk meningkatkan kesehatan.[2] Pemanfaatan jamu di berbagai daerah dan/atau suku bangsa di Indonesia, selain Jawa, belum tercatat dengan baik. Menurut Pols (2010) sejak zaman penjajahan Belanda pada awal abad ke-17, para dokter berkebangsaan Belanda, Inggris ataupun Jerman tertarik mempelajari jamu sampai beberapa di antaranya menuliskannya ke dalam buku, misalnya “Practical Observations on a Number of Javanese Medications” oleh dr. Carl Waitz pada tahun 1829. Isi buku antara lain menjelaskan bahwa obat yang lazim digunakan di Eropa dapat digantikan oleh herbal/tanaman (jamu) Indonesia, misalnya rebusan sirih (Piper bettle) untuk batuk, rebusan kulit kayu manis (Cinnamomum) untuk demam persisten, sedangkan daunnya digunakan untuk gangguan pencernaan. The Weltevreden Military Hospital pada tahun 1850, seorang ahli kesehatan Geerlof Wassink membuat kebun tanaman obat dan menginstruksikan kepada para dokter agar menggunakan herbal untuk pengobatan. Hasil pengobatan tersebut dipublikasikan di Medical Journal of the Dutch East Indies. Seorang ahli farmasi, Willem Gerbrand Boorsma yang saat itu bertugas sebagai direktur “Kebun Raya Bogor” pada tahun 1892 berhasil mengisolasi bahan aktif tanaman dan membuktikan efeknya secara farmakologis yaitu morfin, kinin dan koka.

Pada abad ke-19 diterbitkan buku tentang pemanfaatan jamu di Indonesia oleh dr. Cornelis L. van der Burg yaitu Materia indica. Penemuan teori baru tentang bakteri oleh Pasteur dan ditemukannya sinar X pemanfaatan jamu menurun drastis pada awal tahun 1900.

Pada akhir tahun 1930, dr. Abdul Rasyid dan dr. Seno Sastroamijoyo menganjurkan penggunaan jamu sebagai upaya preventif untuk menggantikan obat yang sangat mahal. Pada tahun 1939, IDI mengadakan konferensi dan mengundang dua orang pengobat tradisional untuk mempraktikkan pengobatan tradisional di depan anggota IDI. Mereka tertarik untuk mempelajari seni pengobatan tradisional Indonesia dan pada tahun yang sama, di Solo diadakan konferensi I tentang jamu yang dihadiri juga oleh para dokter (Webster 2008).

Penggunaan jamu meningkat tajam saat penjajahan Jepang. Pada kurun waktu tersebut, terdapat tiga pabrik jamu besar yaitu PT Jamoe Iboe Jaya (1910), PT Nyonya Meneer (1919) dan PT Sido Muncul (1940). Pada tahun 1966, diadakan konferensi II tentang jamu, juga di Solo untuk mengangkat kembali penggunaan jamu setelah hampir 20 tahun terlupakan terutama akibat perang dunia II yang berdampak pada sosial-ekonomi masyarakat Indonesia terutama di Jawa (Webster 2008). Sejak saat itu, banyak pabrik jamu bermunculan terutama di Jawa Tengah. Banyaknya pendirian industri jamu, pemerintah melindungi konsumen dengan mengeluarkan Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang Izin Usaha Industri Obat Tradisional dan Pendaftaran Obat Tradisonal. Guna menjamin peningkatan penggunaan dan pengawasan terhadap obat tradisional, pemerintah mengeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Sentra Pengembangan dan Penerapan Pengobatan Tradisional (SP3T).

Baca Juga:   Daun Encok (Plumbago zeylanica Linn.)

Pada abad ke-21, para pakar jamu baik peneliti di institusi pendidikan, lembaga pemerintah maupun industri jamu terus berjuang agar jamu menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Berbagai seminar tentang jamu dan/atau obat tradisional Indonesia mulai meningkat. Masing-masing kementerian berlomba-lomba menyusun peta jalan (road map) tentang jamu/obat tradisional Indonesia. Siapa sebenarnya yang menjadi koordinator penyusunan peta jalan tersebut juga tidak jelas, sampai akhirnya disepakati akan dikoordinasi oleh Kementerian Koordinator Ekonomi dan Industri yang akan menyiapkan peristiwa nasional Hari Kebangkitan Jamu dan Jamu dijadikan brand Indonesia pada tahun 2007. Selanjutnya, dikeluarkan Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Kebijakan Obat Tradisional dan Peraturan Menteri Kesehatan RI tentang Penyelenggaraan Pengobatan Komplementer-Alternatif di fasilitas pelayanan kesehatan.

Pada tanggal 27 Mei 2008, Hari Kebangkitan Jamu Indonesia diresmikan Presiden Indonesia Bapak Susilo Bambang Yudoyono, di Istana Merdeka sekaligus meresmikan jamu sebagai brand Indonesia. Jamu seakan mewarnai kembali kebijakan pemerintah setelah pencanangan tersebut yaitu dalam bentuk Undang-Undang No. 36 tahun 2009 tentang kesehatan. Pada pasal 48 ayat 1 disebutkan bahwa dari 17 upaya kesehatan tercantum upaya pelayanan kesehatan tradisional yaitu pengobatan dan/atau perawatan dengan cara dan obat yang mengacu pada pengalaman dan keterampilan turun temurun secara empiris yang dapat dipertanggungjawabkan dan diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat. Pada saat bersamaan, kementerian kesehatan menyusun Standar Pelayanan Medik Herbal yang diperkuat dengan Keputusan Menteri Kesehatan RI tentang Farmakope Herbal Indonesia Edisi pertama.

Baca Juga:   Beluntas Menuntaskan Berbagai Penyakit

Pada tahun 2007, Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan RI memprakarsai isian kuesioner riskesdas 2007 tentang pemanfaatan jamu oleh masyarakat Indonesia. Hasilnya menunjukkan bahwa 35,7% masyarakat menggunakan jamu dan lebih dari 85% di antaranya mengakui bahwa jamu bermanfaat bagi kesehatan (Kemenkes 2010). Riskesdas 2010 ternyata menunjukkan peningkatan hasil yaitu 59,12% dari 35,7% dan 95,6% dari 85% (Kemenkes 2010).

Selain pencapaian hasil yang bermakna dalam riskesdas 2007 dan 2010, disiapkan pula program saintifikasi Jamu untuk membuktikan secara ilmiah bahwa jamu efektif untuk indikasi tertentu dengan metode penelitian berbasis pelayanan. Penggunaan jamu sebagai alternatif pengobatan di samping obat modern pada masyarakat merupakan bagian dari indigenous knowledge masyarakat.

Pemakaian jamu dan obat tradisional lainnya yang dilakukan secara turun temurun tidak terlepas dari peran orang tua dalam melestarikan budaya. Penelitian mengenai perilaku berobat pada lansia, antara lain menyimpulkan bahwa salah satu cara menjaga kesehatan yang dilakukan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta (terutama wanita) adalah dengan sering mengkonsumsi ramuan jamu Jawa yang harganya relatif murah.[3] Hasil penelitian menunjukkan mengenai pola hidup lansia di Daerah Istimewa Yogyakarta menemukan bahwa para lanjut usia di DIY menjaga kesehatan tubuhnya dengan minum jamu dan berolah raga, sedangkan untuk kesehatan mental/psikologis dengan hidup sumeleh (menyerahkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa)[1]. Hasil-hasil penelitian tersebut lebih menekankan penggunaan jamu Jawa pada masyarakat umum, lansia, dan wanita. Sebetulnya, jamu dapat digunakan juga untuk anak-anak. Obat tradisional bukan semata-mata hanya untuk wanita namun tersedia pula untuk laki-laki dan anak-anak[2]. Jamu memiliki beberapa keunggulan, seperti toksisitasnya rendah dan efek samping yang ditimbulkan ringan. Berdasarkan pemikiran ini peneliti ingin mengetahui penerimaan penggunaan jamu sebagai alternatif penggunaan obat modern pada masyarakat ekonomi rendah-menengah dan atas; peran strategis dinas kesehatan dalam kebijakan jamu pada pemerintah lokal; model pengelolaan jamu untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

Tingkat penggunaan jamu sebagai alternatif penggunaan obat modern pada masyarakat ekonomi rendah-menengah dan atas memang dipengaruhi banyak aspek. Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumen membeli jamu meliputi faktor pribadi, faktor bauran pemasaran dan faktor sosial, budaya dan psikologi[3]. Aspek budaya memegang peran penting dalam mengonsumsi jamu. Hal yang menarik peneliti adalah apakah pada era globalisasi, modernisasi serta metode pengobatan modern yang canggih didukung oleh peralatan yang maju, faktor-faktor pribadi, faktor bauran pemasaran dan faktor sosial, budaya dan psikologi masih menjadi pertimbangan dalam mengonsumsi jamu pada masyarakat.


[1]              Badan Litbang Kesehatan (2010) Laporan hasil riset kesehatan dasar tahun 2010. Jakarta: Badan Litbang Kesehatan.

[2]              Pringgoutomo S (2007) Riwayat perkembangan pengobatan dengan tanaman obat di dunia timur dan barat. Buku Ajar Kursus Herbal Dasar untuk Dokter. Jakarta: Balai Penerbit FKUI; 1-5.

[3]              Partini S (1999) Profil Sosial Budaya Lansia dalam Keluarga dan Komunitas di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Laporan Penelitian, Yogyakarta, IKIP Yogyakarta.

- Advertisement -spot_img

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisement -spot_img

Latest News

7 Tahapan Teknik Budidaya Kacang Panjang agar Hasil Melimpah

7 tahapan teknik budidaya kacang panjang agar menghasilkan buah yang melimpah. Caranya mulai dengan memperhatikan persyaratan tumbuh hingga pengelolaan pasca panen.
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img