Senin, Desember 6, 2021

Disinfektan Memicu Resistensi Virus dan Bakteri

Must Read

Disinfektan memicu resistensi virus dan bakteri sebagaimana disampaikan WHO agar menggunakan tidak berlebihan.

aksiografi.com – Pandemi COVID-19 menciptakan kepanikan di masyarakat di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Sejak kasus virus corona ditemukan di Indonesia pada bulan Februari, masyarakat berlomba-lomba menggunakan disinfektan, antiseptik hingga bilik sterilisasi sebagai langkah preventif membunuh bakteri maupun virus. Bahkan sebagian besar disinfektan dan antiseptik diracik sendiri oleh masyarakat. Mereka mendapatkan informasi cara membuat dari media sosial yang bertebaran.

Bahan-bahan yang digunakan dalam membuat hand sanitizer dan bahan penyemprotan dalam bilik cukup berbahaya bagi manusia seperti alkohol, chlorine dan H2O2. Bahan itu dapat mengakibatkan terjadinya mutasi bakteri dalam satu hingga dua tahun. “Bahan-bahan itu bersifat karsinogenik bahkan bisa mengakibatkan terjadinya mutasi bakteri,” kata dr. Fredy sebagaimana dilansir dalam detikNews.

Dafar bahan kimia yang digunakan sebagai bahan disinfektan seperti yang disebutkan Sekolah Farmasi ITB diantaranya adalah diluted bleach (larutan pemutih/natrium hipoklorit), klorin dioksida, etanol 70%, kloroksilenol, elecrolyzed salt water, amonium kuarterner (seperti benzalkonium klorida), glutaraldehid, dan hidrogen peroksida (H2O2). Bahan-bahan itu membahayakan bagi kesehatan secara langsung, misal pada mata, kulit, hingga saluran pernapasan dan paru-paru.

Baca Juga:   Virus Corona 2019-nCoV Menjadi COVID-19

Badan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization, WHO) telah memberikan peringatan bahaya pemakaian alkohol dan chlorine pada tubuh. WHO telah memberikan resep rekomendasi dalam pembuatan hand zanitizer berbasis etanol dan Iso Propyl Alcohol (IPA).

mythbusters-33
Penyemportan alkohol atau klorin pada tubuh seseorang tidak akan membunuh virus yang sudah masuk ke dalam tubuh.

Namun banyak masyarakat awam membuat disinfektan tanpa mematuhi jumlah kadar yang direkomendasikan. Maraknya penggunaan disinfektan yang berlebihan di masyarakat karena menganggap disinfektan bisa mematikan virus corona.

Padahal itu tidak berlaku dalam tubuh. Disinfektan hanya berlaku di area permukaan saja, seperti pakaian, benda material, dan kulit. Namun penggunaan pada kulit perlu kehati-hatian.

Penyakit COVID-19 yang disebabkan virus corona SARS-CoV 2 merupakan virus yang mempunyai selubung atau sampul (enveloped viruses) dengan pelindung lapisan lemak. Memang cairan disinfektan dapat merusak lapisan lemak yang membuatnya melemah namun tetap memperhatikan rekomendasi WHO bahwa cairan disinfektan tidak digunakan untuk penyemprotan pada tubuh.

Di laman resmi WHO membahas banyak tentang mitos yang beredar di masyarakat seperti bawang putih sebagai obat penangkal COVID-19, minuman alkohol dapat mencegah COVID-19, pengukur suhu dapat mendeteksi COVID-19, dan lain-lain. WHO menjelaskan melalui gambar dan narasi singkat bahwa mitos itu tidak benar seperti menjelaskan bahwa disinfektan dapat memicu resistensi virus dan bakteri dengan menggunakan dengan cara berlebihan.

Baca Juga:   Sariawan atau Stomatitis aphtosa

Hal yang paling efektif dilakukan adalah rajin cuci tangan, jaga jarak, jaga kebersihan lingkungan dan mengenakan masker di luar rumah.

Disunting oleh: dr. Sri Hikmawaty

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img

Latest News

7 Tahapan Teknik Budidaya Kacang Panjang agar Hasil Melimpah

7 tahapan teknik budidaya kacang panjang agar menghasilkan buah yang melimpah. Caranya mulai dengan memperhatikan persyaratan tumbuh hingga pengelolaan pasca panen.
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img