29 Agustus: Perang Opium Pertama dan Perjanjian Nanking – Pertarungan Tak Terhindarkan

Date:

Telusuri kisah pahit di balik Perang Opium Pertama antara Dinasti Qing dan Kerajaan Britania Raya pada abad ke-19. Artikel ini mengungkap latar belakang perdagangan opium yang memicu konflik, konsekuensi dari perang, dan akhir tragis dalam Perjanjian Nanking yang membuka pintu bagi dominasi Barat di Cina.

aksiografi.com – Dalam teriknya tanggal 29 Agustus 1842, langit di atas Nanking menjadi saksi dari tandatangan yang mengukuhkan takdir: Perjanjian Nanking. Sebuah perjanjian yang menutup lembaran hitam sejarah Perang Opium Pertama yang telah membuka babak baru dalam relasi antara Dinasti Qing dari Cina dan Kerajaan Britania Raya. Mereka yang telah menyaksikan arus darah dan api peperangan yang menyala sejak tahun 1839 hingga 1842, akan merasa dingin mengalir dalam darah mereka ketika memandang ke belakang, melihat bagaimana sengketa perdagangan opium yang berakar dari nafsu menghasilkan cerita pahit yang takkan lekang oleh waktu.

Pada era abad ke-18 dan awal abad ke-19, Inggris, dalam kelicikan ambisinya, menjalin perniagaan gelap yang meresahkan dengan Cina, menjual racun bernama opium. Di sana, di tengah kerumunan, opium telah menyulut nyala ketagihan yang membara, memakan habis kesehatan dan martabat masyarakat Cina. Ketika Dinasti Qing mengangkat kepalanya untuk melawan arus tergelap ini dengan melarang opium dan menghancurkan persediaan di pelabuhan Guangzhou, gelombang marah dari Inggris memecah batu karang itu, mewarnai samudra dengan kekerasan yang tak terelakkan.

Saat ketegangan merayap seperti racun melalui jalur perdagangan dan diplomasi, perang pun tak terhindarkan. Tahun-tahun penuh ketakutan dan keganasan, yang dimulai dari 1839, akhirnya mencapai puncaknya dalam Perang Opium Pertama. Pasukan Inggris, dilengkapi dengan teknologi militer canggih, mendominasi medan pertempuran, mendorong Dinasti Qing hingga ambang kekalahan yang pahit.

Namun, segalanya datang pada titik di mana perdamaian tampaknya lebih menarik daripada perebutan kehancuran. Pada 29 Agustus 1842, tinta menorehkan kata-kata dalam lembaran Perjanjian Nanking. Sebuah kesepakatan yang menceritakan tentang perubahan masa depan, ketika lima pelabuhan, termasuk Guangzhou, Shanghai, dan Xiamen, terbuka lebar bagi perdagangan dunia. Sebuah dunia yang telah ditinggalkan oleh arus air mata dan darah, yang dibawa oleh Inggris dan pasukannya.

Namun, kesepakatan ini tak sekadar mengenai pelabuhan. Pulau Hong Kong diserahkan kepada Inggris, sebuah tanda tangan atas kekalahan tanpa ampun. Pulau Zhoushan juga berganti tuan, mengangkat bendera Inggris. Perjanjian ini menjadi simbol dari ketidakberdayaan Dinasti Qing, mengungkapkan celah dalam perlindungan mereka dan mengizinkan naiknya arus imperialisme yang mendominasi kebijakan Tiongkok selanjutnya.

Saat tirai jatuh pada Perang Opium Pertama, halaman baru sejarah digulung. Dengan kemerdekaan yang terputus-putus, Cina dihadapkan pada pintu yang terbuka lebar bagi bangsa Barat. Jalan buntu yang melahirkan penjajahan dan penindasan. Perjanjian Nanking membuka luka yang dalam, mengingatkan dunia akan harga yang harus dibayar oleh sebuah bangsa ketika perdagangan nafsu menang atas martabat manusia. Sejarah takkan lupa, dan bencana ini akan terus dikenang dalam kisah Cina yang berliku.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Subscribe

Popular

More like this
Related

5 Manfaat Putri Malu yang Perlu Anda Ketahui

5 manfaat Putri Malu (Mimosa pudica) yang jarang diketahui...

Ilalang Memiliki Efek Penyembuhan

Ilalang memiliki efek penyembuhan. Tumbuhan liat ini mengandung berbagai zar kimia antara lain manitol, glukosa, sakharosa, malic acid, citric acid, coixol, arundoin, cylindrin, fernenol, simiarenol, anemonin, asam kersik, damar, logam alkali.

Lada Hitam, Rempah Ajaib Penuh Manfaat untuk Kesehatan

Lada hitam, rempah ajaib yang bisa memberikan rasa pedas...

Bimbingan Malam yang Menenangkan: Selasih, Penolong Tidur yang Menenangkan

Temukan Rahasia Tidur Tenang dengan Selasih: Pelukan Alam yang...