Revolusi Marginal: Bagaimana Utilitas Marginal dan Pemikiran pada Margin Membentuk Dunia Bisnis dan Olahraga

Date:

“Kita mengambil keputusan ekonomi berdasarkan margin bukan pandangan terhadap gambaran besar.”

Eugen von Bohm-Bawerk, ahli ekonomi Austria

aksiografi.com – Pada tahun 2007, dunia sepak bola dihebohkan dengan transfer besar David Beckham ke klub sepak bola Amerika, LA Galaxy. Kontrak senilai $250 juta ini memunculkan pertanyaan mengapa seorang pemain sepak bola bisa mendapatkan bayaran yang begitu tinggi. Namun, fenomena ini dapat dijelaskan melalui konsep revolusi marginal dan utilitas marginal yang membentuk cara kita memberi nilai kepada suatu barang atau seseorang.

David Beckham, seorang superstar sepak bola, menjadi pusat perhatian pada tahun 2007 ketika ia pindah dari Real Madrid ke LA Galaxy dengan kontrak senilai $250 juta. Meskipun jumlahnya terdengar tidak ekonomis, klub sepak bola tidak akan membayar jumlah tersebut jika mereka tidak mengharapkan laba yang besar dari Beckham. Nilai yang tinggi ini ditentukan oleh minat yang dihasilkan oleh Beckham sebagai bintang sepak bola dan daya tariknya sebagai ikon pemasaran.

Konsep revolusi marginal mengungkapkan bahwa nilai suatu barang atau individu bersifat subjektif dan tergantung pada bagaimana orang menilainya pada suatu waktu tertentu. Hal ini menjelaskan mengapa seorang atlet seperti David Beckham bisa mendapatkan bayaran yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan profesi lain yang berperan penting dalam kesejahteraan masyarakat, seperti guru atau dokter. Masyarakat secara tidak langsung menilai Beckham layak mendapatkan bayaran setinggi itu karena mereka bersedia membayar produk-produk yang berhubungan dengan Beckham.

Utilitas marginal adalah konsep yang menunjukkan bahwa nilai suatu barang atau jasa berkurang seiring dengan meningkatnya ketersediaannya. Misalnya, sebuah gelas air mungkin tak ternilai bagi seseorang yang kehausan di padang pasir, tetapi semakin banyak gelas air yang tersedia, semakin sedikit orang tersebut bersedia membayarnya. Konsep ini juga berlaku dalam kasus harga minyak yang naik atau turun berdasarkan permintaan dan pasokan.

Alfred Marshall, seorang ahli ekonomi terkemuka, mengembangkan konsep utilitas marginal dan mengakui bahwa keputusan konsumen didasarkan pada pertimbangan marginal. Marshall menekankan bahwa harga suatu barang atau jasa dipengaruhi oleh keinginan konsumen, serta ketersediaan dan harga barang lain. Pemikiran pada margin menjadi landasan ekonomi modern dan diadopsi dalam perencanaan bisnis di seluruh dunia.

Kisah David Beckham menggambarkan bagaimana pemikiran pada margin dan konsep utilitas marginal mempengaruhi dunia bisnis dan olahraga. Meskipun nilai suatu barang atau individu bersifat subjektif, revolusi marginal membantu menjelaskan mengapa harga dan bayaran yang tinggi diberikan kepada mereka yang langka dan memiliki daya tarik khusus. Pemahaman tentang utilitas marginal juga penting dalam pengambilan keputusan bisnis dan menentukan harga pasar suatu produk atau jasa.

Subscribe

Popular

More like this
Related

Menerawang Perjalanan World Day of International Justice Menuju Keadilan Global

Sebuah Refleksi Penuh Tantangan Terhadap Impunitas dan Perjuangan Keadilan...

Membangun Landasan Perbankan yang Kuat: Dari Nasionalisasi hingga Transformasi Bank Indonesia

aksiografi.com – Sejarah perbankan Indonesia mencatat peristiwa penting dengan...

Sejarah Terbentuknya Bank Indonesia: Dari Kolonialisme Menuju Kedaulatan Ekonomi

Pelajari sejarah terbentuknya Bank Indonesia, dari Yayasan Bank Indonesia...

Hari Jurnalis Olahraga Sedunia: Melintasi Garis Waktu Bersama Para Pemangku Cerita

aksiografi.com – Dalam gemuruh sorak-sorai penonton dan teriakan penuh...