Ad
Home Ekonografi Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Gabah di Indonesia

Perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Gabah di Indonesia

0
sumber: BPS Indonesia
Ad

Analisis perkembangan Nilai Tukar Petani (NTP) dan Harga Gabah di Indonesia berdasarkan data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada 2 Mei 2023 berdampak pada kesejahteraan petani.

Ad

aksiografi.com – Pada bulan April 2023, Indonesia mengalami penurunan nilai tukar petani (NTP) sebesar 0,24 persen dibanding bulan sebelumnya. NTP merupakan indikator yang penting dalam mengukur kemampuan dan daya beli petani di perdesaan. Selain itu, harga gabah juga memainkan peran yang signifikan dalam menentukan pendapatan petani. Dalam analisis ini, kita akan mengevaluasi perkembangan NTP dan harga gabah di Indonesia berdasarkan data dan statistik terbaru.

Perkembangan NTP dan Harga Gabah

Pada bulan April 2023, NTP nasional mencapai 110,58, mengalami penurunan 0,24 persen dibandingkan bulan sebelumnya, Maret 2023 sebesar 0,29 persen. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan 0,12 persen dalam Indeks Harga yang Diterima Petani (It) dan kenaikan 0,13 persen dalam Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib). Provinsi Riau mengalami penurunan NTP terbesar sebesar 2,42 persen, sedangkan Provinsi Sumatera Selatan mengalami kenaikan tertinggi sebesar 1,50 persen.

perkembangan nilai tukar petani 2023
sumber: BPS Indonesia

Selama April 2023, harga gabah mengalami kenaikan secara umum. Harga gabah kering panen (GKP) di tingkat petani naik 2,40 persen, sedangkan di tingkat penggilingan naik 2,25 persen. Harga gabah kering giling (GKG) naik 0,90 persen di tingkat petani dan 0,68 persen di tingkat penggilingan. Harga gabah luar kualitas naik 5,47 persen di tingkat petani dan 4,96 persen di tingkat penggilingan. Dibandingkan dengan April 2022, rata-rata harga gabah pada April 2023 mengalami kenaikan signifikan, antara 20-26 persen, baik di tingkat petani maupun penggilingan.

Situasi Konsumsi Rumah Tangga dan NTUP

Pada bulan April 2023, terjadi kenaikan 0,14 persen dalam Indeks Konsumsi Rumah Tangga (IKRT) di Indonesia. Hal ini disebabkan oleh kenaikan indeks pada seluruh kelompok pengeluaran. Selain itu, nilai tukar usaha rumah tangga pertanian (NTUP) mengalami penurunan 0,24 persen dibanding bulan sebelumnya.

Analisis dan Implikasi

Perkembangan NTP dan harga gabah di Indonesia pada bulan April 2023 menunjukkan beberapa pola menarik. Meskipun NTP mengalami penurunan, harga gabah secara umum mengalami kenaikan. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan dalam daya tawar petani dalam memperoleh pendapatan dari hasil panen mereka. Meskipun petani mendapatkan harga yang lebih tinggi untuk produk mereka, peningkatan biaya produksi seperti harga pupuk dan sumber daya pertanian lainnya mungkin telah mempengaruhi daya beli petani.

Kenaikan harga gabah juga dapat memiliki dampak terhadap konsumsi rumah tangga. Dengan kenaikan IKRT sebesar 0,14 persen, terlihat bahwa konsumsi rumah tangga masih cukup kuat. Namun, penurunan NTUP dapat mengindikasikan beban yang lebih berat bagi usaha rumah tangga pertanian dalam hal biaya produksi dan daya beli.

Analisis ini menggarisbawahi perlunya perhatian terhadap kesejahteraan petani dan keseimbangan antara harga gabah dan biaya produksi. Kebijakan yang mendukung petani dengan menyediakan akses yang lebih baik ke pasar dan sumber daya yang diperlukan dapat membantu meningkatkan daya tawar petani dan memastikan keberlanjutan sektor pertanian.

Ad

NO COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Exit mobile version