Perayaan 1 Muharram 1442 Hijriah

Perayaan 1 Muharram 1442 Hijriah tidak semarak tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini kegiatan Satu Suro disesuaikan dengan protokol pandemi Covid-19.

aksiografi.com – Kamis, 20 Agustus 2020 bertepatan dengan tahun baru Islam, 1 Muharram 1442 Hijriah dan ditetapkan sebagai cuti bersama oleh pemerintah. Muharram adalah salah satu bulan dari empat bulan yang memiliki keutamaan.

Tiga bulan lainnya adalah Dzulqadah, Dzulhijjah, dan Rajab Mduhar, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram”.[i]

Penanggalan Islam menggunakan kalender Hijriah berdasarkan peredaran bulan sehingga disebut juga kalender Kamariah (bulan). Kalender bulan adalah kalender yang pertama kali digunakan dalam sejarah peradaban manusa.

Berbagai kegiatan penyambutan tahun baru Islam itu sebagai bentuk peringatan menandai peristiwa penting yang terjadi dalam sejarah Islam. 1 Muharram adalah peristiwa penghjraan Nabi Muhammad SAW dari kota Mekkah ke Madinah pada tahun 622 Masehi.

Muharram dalam kalnder Jawa-Islam dinamakan Suro sehingga tanggal 1 Muharram disebut juga dengan Satu Suro. Istilah kalender Jawa-Islam itu dicetuskan Sultan Agung Pemimpin Kerajaan Mataram Islam.

Berbagai ragam kegiatan serta ritual penyambutan tahun baru Isam dilakukan di berbagai negara di dunia termasuk Indonesia. Salah satu tradisi Satu Suro di Yogyakarta seperti kirab gunungan, tumpeng, pembersihan benda pusaka, dan mubeng benteng (mengelilingi benteng). Begitu juga di Surakarta memiliki tradisi kirab malam Satu Suroatau Kirab Kebo Bule yang dirangkaian dengan jemasan pusaka, ritual semedi.

Tradisi malam pergantian tahun itu berkaitan dengan perenungan diri atau refleski selama satu tahun dan mempersiapkan diri untuk satu tahun berikutnya. Salah satu bentuknya melakukan tirakat atau ‘lelaku’.

Begitu juga di Sukabumi memiliki tradisi yang disebut dengan Ngabulang dengan menabuh beduk. Masyarakat Islam di Kalimantan memiliki tadisi kahs penyambutan tahun baru Islam dengan membuat bubur Asyura. Orang Makassar dan Bugis di Sulawesi Selatan memiliki tradisi membeli perabot baru.

Namun dalam suasana pandemi Covid-19, kegiatan atau tradisi rutin itu banyak ditiadakan atau dikurangi dan diganti dengan kegiatan berdoa di mesjid-mesjid.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengeluarkan sejumlah imbauan terkait penyambutan Tahun Baru Islam dalam kondisi pandemi. MUI mengajak seluruh Ummat Islam Indonesia mengungkapkan rasa syukur dan berdoa kepada Allah SWT agar amal kebaijakan meningkat di tahun ini.

MUI mengajak seluruh bangsa Indonesia agar menjadikan Tahun Baru Islam 1442 Hijriah sebagai tahun solidaritas dan kepedulian sosial terhadap sesama. MUI juga mengimbau kepada para aghniya’, para dermawan dan pengusaha untuk menggalang kesetiakawanan sosial seperti dilansir republika.co.id.

MUI juga meminta pemerintah bekerja lebih sistematis, terencana, dan terprogram dalam menangani wabah Covid-19 agar jumlah korban menurun. “Tokoh bangsa hendaknya membangun persaudaraan sejati, menciptakan kehidupan masyarakat yang rukun, harmonis, saling menghormati, mencintai, dan gemar menolong dalam semangat persaudaraan,” kata Zainut Tauhid.

Senada dengan himbauan Menteri Agama Fachrul Razi mengajak umat meneguhkan persatuan, dan mewujudkan kehidupan berbangsa yang lebih baik dalam rangka menyongsong tahun baru 1 Muharram 1442 Hijriah.

Perayaan 1 Muharram 1442 Hijriah

Berbagai bentuk kegiatan penyambutan Malam Tahun Baru Islam dalam suasana pandemi Covid-19 di berbagai kota sebagai berikut:

Di Kota Mataram, Nusa Tenggara Bara, ummat Islam menyambut tahun baru 1 Muharram dengan kegiatan dia akhir dan awal tahun, zikir serta pembacaan Surah Yasin di lingkungan masing-masing dengan menaati protokol Covid-19.

Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, warga Islam di Mataram selalu melakukan pawai obor keliling kampung, istighosah serta kegiatan lain yang menyemarakkan penyambutan Tahun Baru Hijriah.

Sementara di Surakarta kegiatan rutin menyambut tahun baru Hijriah Kirab Malam Satu Sara ditiadakan. Kegiatan itu ditiadakan untuk menghindari penyebaran virus corona di kota itu. Kirab Malam Satu Sara selalu disambut ribuan orang menyaksikan acara budaya.

“Kami tiadakan dulu untuk tahunini karena kami tidak ingin ada klaster bari karena kitab ini,” kata Pura Magkunegaran Jokor Pramudya, Abdi Dalem Bagian Pariwisata Pura seperti dilansir repbuklika.co.id.

Acara Kirab Malam yang mengundang banyak jamaah berkumpul adalah prosesi jemasan pusaka. Seluruh rangkaian kirab malam termasuk ritual semedi juga ditiadakan.


[i]              Quran Surah At-Taubah, ayat 36.