gelombang panas di timur tengah dan eropa

Gelombang Panas terjadi di Timur Tengah dan Eropa. Dua kawasan ini mengalami suhu udara yang panas atau gelombang panas (heatwave).

aksiografi.com – Gelombang Panas terjadi di Timur Tengah dan Eropa. Dua kawasan ini mengalami suhu udara yang panas atau gelombang panas (heatwave). Berdasarkan pengamatan suhu udara permukaan bulan Juni 2019 berada di kawasan Irak, Kuwait, dan Arab Saudi. Suhu maksimum tercatat di Stasiun Basrah-Hussein (Irak) setinggi 50 derajat Celsius pada tanggal 10 Juni 2018 dan Stasiun Mitribah (Kuwait) setinggi 51,4 derajat Celsius di hari yang sama.

Suhu panas yang terjadi di Timur Tengah akibat perluasan gelombang panas yang menerjang India sejak beberapa minggu. Gelombang panas terus meluas dari India, Pakistan, Afganistan, Turkemistan, Irak, Iran dan Saudia Arabia. Suhu permukaan yang terpapar gelompang panas di wilayah itu bervariasi antara 34-51 derajat Celsius.

Selain Timur Tengah, Eropa juga mengalami hal yang sama. Negara yang terpapar heatwave dan mengakibatkan korban jiwa seperti di Spanyol, Prancis, German, Ceko, dan Italia. Rata-Rata suhu meningkat selama terpaan gelombang panas mencapai 10 derajat Celsius di atas normal. Kebakaran hunian dan hutan terjadi di beberapa wilayah Eropa Selatan. Gelombang panas di Eropa terpicu dari udara panas yang mengalir dari Afrika Utara pada awal musim panas tahun ini.

Laporan Satelit Copernicus Climate Change Service (C3S) menunjukkan temperatur rata-rata global pada Juni 2019 tercatat mencapai angka tertinggi. “Data kami menunjukkan bawah suhu di wilayah barat daya Eropa selama minggu terkahir Juni sangat tinggi,” kata Jean-Noel Thepaut, kepala CS3. Ia menyampaikan bahwa meskipun fenomena ini tidak bisa, tapi kita bakal cenderung mengalami persitiwa semacam ini lebih banyak ladi di masa depan karena perubahan iklim.

Data Historis Wilayah Timur Tengah

Wilayah Timur Tengah, berdasarkan pola klimatologi, memang menunjukkan suhu yang tinggi pada bulan Juni, Juli dan Agustus. Suhu tinggi pada periode ini disebabkan posisi gerak semu tahunan matahari yang berada di wilayah Belahan Bumi Utara.

Selain itu, letak geograris Timur Tengah yang terletak pada lintang utara 20°-30°. Umumnya wilayah yang terpapan panas pada periode itu umumnya beriklim gurun dan menjadi lokasi gerak turun massa udara (subsidensi). Faktor itulah yang mengakibatkan air di atmosfer lebih rendah dibandingkan dengan wilayah yang berada di lintang lain

Berikut data pengamatan cuaca Stasiun Al Amara di Irak suhu tinggi melebihi 50 derajat Celsius selama 7 tahun terakhir, yaitu:

  1. 52,2° C pada tahun 2019
  2. 51,5° C pada tahun 2018
  3. 52,0° C pada tahun 2017
  4. 52,2° C pada tahun 2016
  5. 51,5° C pada tahun 2018
  6. 51,0° C pada tahun 2012
  7. 51,0° C pada tahun 2011

Seiring kenaikan suhu ini dapat diatribusikan sebagai dampak perubahan iklim secara global. “Peningkatan panas ekstrem ini sama seperti yang telah diprediksi oleh ilmu iklim sebagai konsekuensi dari pemanasan global yang disebabkan oleh meningkatnya gas rumah kaca dari pembakaran batu bara, minyak dan gas,” kata Stefan Rahmstorf dari Institute for Climate Impact Research.