Bentor Merana di Tengah Kecanggihan Aplikasi

Bentor merana di tengah kecanggihan aplikasi android. Pelanggan beralih ke pelayanan sistem aplikasi dengan harga murah dan kenyamanan tercapai.

aksiografi.com – Becak Morot (bentor) hanya bertahan lima tahun saja setelah jaya menyingkirkan becak yang dianggap mengeksploitasi tenaga manusia. Meski kehadiran bentor mendapat protes dari kelompok pengemudi becak yang menganggap piring makanannya dipecah.

Perkembangan teknologi tidak dapat dicegah. Kehadiran aplikasi yang menjalankan sistem transportasi dengan memanfaatkan pemilik kendaraan pribadi, baik roda dua maupun roda empat pun ikut menyingkirkan bentor.

Foto: Irfandi, Driver Bentor yang beroperasi di Malengkeri

Sistem aplikasi Go-Jek, Grab, Go-Car, dan lain-lain memberi kesempatan kepada siapa saja yang berminat menjadi driver sebagai salah satu alternatif pekerjaan. Sehingga penawaran alat transportasi sangat banyak ditemukan dengan hanya klik aplikasi saja tanpa harus menunggu di pinggir jalan.

Driver bentor pun merasa tersaingi dalam rebutan pelanggan. Bentor tidak mampu bersaing karena mereka hanya mengandalkan penawaran dipinggir jalan.

Foto: Irfandi bermain game sambil menunggu penumpang

Sebut saja Irfandi, driver bentor sejak tahun 2014 merasakan kurangnya pelanggan yang diperoleh setiap harinya. Penyebab utamnya karena banyaknya saingan dalam bentuk aplikasi. Rerata yang diperoleh hanya sampai tujuh orang perharinya, itupun tidak merata, pelanggang berjarak dekat atau jauh. Jarak dekat dihargai Rp 5.000 sedangkan jarak menengah dihargai Rp 20 ribu, dan jauh dihargai Rp 40 ribu. Pengemudi bentor merana karena pendapatan terus menurun sementara harga sembako terus naik.