4 jenis cacing terbaik

4 jenis cacing terbaik untuk dikembangbiakkan. Cacing sangat mudah berkembang biak sehingga sangat potensi dijadikan sebagai pakan ikan.

aksiografi.com – Ingin sukses sebagai petani tambak ikan? Mudah. Jadikan cacing sebagai pakannya. Tidak butuh biasa besar karena hanya menyiapkan media saja untuk mengembangbiakkan cacing tanah.

Banyak petani ikan kesulitan mendapatkan pakan khususnya yang berskala besar.. Padahal dengan membudidayakan cacing, pakan ikan cukup terpenuhi. Cacing sebagai pakan ikan tidak kalah dengan pakan yang diperjualbelikan di toko-toko pakan ikan. Cacing mengandung protein, lemak, dan mineralnya yang tinggi.

Cacing tanah termasuk hewan invertebrata karena tidak mempunyai tulang belakang dan tergolong kelas Oligochaeta. Famili terpenting dari kelas ini Megascilicidae dan Lumbricidae. Cacing tanah bukanlah hewan yang asing bagi masyarakat kita, terutama bagi masyarakat pedesaan. Bagi petani, cacing bukan binatang menjijikkan karena mudah didapat di tanah yang lembab dan gembur.

Namun hewan ini memiliki potensi ekonomis yang tinggi. Manfaatnya banyak. Di bidang kesehatan, cacing juga bisa dimanfaatkan sebagai obat alternatif, di bidang pertanian cacing digunakan untuk menyuburkan tanah dan bekas cacing (tinja) adalah pupuk terbaik untuk pertumbuhan tanaman dan pakan ikan, dan di bidang peternakan sangat baik sebagai pakan ayam atau itik.

Kenapa cacing dianggap dapat memenuhi pakan ternak ikan? Jawabannya karena sistem reproduksi cacing yang cukup cepat dan berlipat ganda. Ia termasuk hewan hermaprodit yaitu memiliki alat kelamin jantan dan betina dalam satu tubuh. Namun untuk pembuahan cacing tidak dapat melakukannya sendiri. Mereka tetap butuh perkawinan sepasang cacing tanah, masing-masing cacing akan menghasilkan satu kokon yang berisi telur-telur.

Bentuk kokon lonjong dan berukuran sekitar 1/3 besar kepala korek api. Kokon ini diletakkan di tempat yang lembab. Dalam waktu 14-21 hari kokon akan menetas. Setiap kokon dapat menghasilkan 2-20 ekor, rata-rata 4 ekor. Jadi dalam 100 ekor cacing dapat menghasilkan 100.000 cacing dalam waktu 1 tahun.

Cacing tanah mulai dewasa setelah berumur 2-3 bulan yang ditandai dengan adanya gelang (klitelum) pada tubuh bagian depan. Selama 7-10 hari setelah perkawinan cacing dewasa akan dihasilkan 1 kokon.

Jenis-jenis cacing yang paling banyak dikembangkan berasal dari famili Megascolicidae dan Lumbricidae dengan genus Lumbricus, Eiseinia, Pheretima, Perionyx, Diplocardi dan Lidrillus.

Beberapa jenis cacing tanah yang kini banyak diternakkan antara lain: Pheretima, Perionyx dan Lumbricus. Ketiga jenis cacing tanah ini menyukai bahan organik yang berasal dari pupuk kandang dan sisa-sisa tumbuhan.

Cacing tanah jenis Lumbricus mempunyai bentuk tubuh pipih. Jumlah segmen yang dimiliki sekitar 90-195 dan klitelum yang terletak pada segmen 27-32. Biasanya jenis ini kalah bersaing dengan jenis yang lain sehingga tubuhnya lebih kecil. Tetapi bila diternakkan besar tubuhnya bisa menyamai atau melebihi jenis lain.

Cacing tanah jenis Pheretima segmennya mencapai 95-150 segmen. Klitelumnya terletak pada segmen 14-16. Tubuhnya berbentuk gilik panjang dan silindris berwarna merah keunguan. Cacing tanah yang termasuk jenis Pheretima antara lain cacing merah, cacing koot dan cacing kalung.

Cacing tanah jenis Perionyx berbentuk gilik berwarna ungu tua sampai merah kecokelatan dengan jumlah segmen 75-165 dan klitelumnya terletak pada segmen 13 dan 17. Cacing ini biasanya agak manja sehingga dalam pemeliharaannya diperlukan perhatian yang lebih serius.

Cacing jenis Lumbricus rubellus memiliki keunggulan lebih dibanding kedua jenis yang lain di atas, karena produktivitasnya tinggi (penambahan berat badan, produksi telur/anakan dan produksi bekas cacing “kascing”) serta tidak banyak bergerak Cacing juga cocok bagi peternak ungags dan udang.